"Penetapan target pendapatan dari sektor hotel sudah terpenuhi. Sementara yang restoran belum terpenuhi, itu yang menjadi fokus kami sekarang," tegasnya.
Menurut Yuno, wisatawan yang berkunjung ke Kota Bogor masih sama didominasi oleh warga Jakarta, hamper 40 persen dari Jakarta.
"Meski pun kita lihat juga tradisi mudik yang dilakukan teman-teman customer yang memanfaatkan momen liburan Nataru dari luar Kota Bogor juga ada," jelasnya.
Baca Juga: Puncak Jadi Andalan, Bogor Diproyeksikan Diserbu 2,5 Juta Wisatawan Selama Libur Nataru
"Jika kita lihat angkanya sekarang bicara pemesanan kamar hotel untuk tanggal 31 itu masih diangka 51 persen, artinya memang customer belum melakukan pemesanan sejak jauh hari," ucapnya.
Yuno menyatakan, wisatawan yang berkunjung ke Kota Bogor terbagi ke dalam dua segmen. Yaitu libur Natal dan libur Tahun Baru. Dan pemesanan kamar untuk tahun baru dilakukan saat timing minggu ini pasca Natal.
Sebelumnya kata Yuno, PHRI menyampaikan harapannya kepada Wakil Wali Kota Bogor dan Ketua DPRD, setiap yang berkunjung lalu bertransaksi di Kota Bogor baik pembelian kamar maupun makanan restoran itu dilakukan di usaha yang terdaftar memiliki izin.
"Dan mempunyai NPWD, yaitu membayar pajak 10 persen terhadap pemerintah. Bukan dilakukan di kaki lima yang tidak mendaftarkan izin usahanya dan tidak berkontribusi pajak," tegas Yuno.
Begitu pun hotel, tidak dilakukan di kamar-kamar yang penjualannya melalui platform online. Tetapi sesungguhnya adalah rumah tinggal, apartemen yang tidak memiliki izin penjualan akomodasi jangka pendek dan bayar pajak.
Comment