“Alhamdulillah, berkat kepedulian bapak Rudy Susmanto dan Jaro Ade, kini kami memiliki ruang terbuka untuk belajar bersama," sambung RM Dery.

Baca Juga: Cerita Dibalik Kecelakaan Tunggal di Jasinga Bogor: Tahu Bulat, Tikungan Tajam, dan Suara Mendadak Hilang

Tak sekadar fisik bangunan, pendopo yang dulu hancur kini menjelma sebagai rumah gagasan. Setiap pekan, Sampiran Literasi menjadi panggung gagasan kolektif anak muda. 

Mereka membicarakan isu-isu lokal, sejarah kampung halaman, hingga merancang gerakan kecil yang berdampak besar bagi masyarakat.

“Tempat ini bukan hanya bangunan, tapi rumah baru bagi ide-ide dan semangat kami untuk terus belajar dan berkarya,” ujar salah satu penggagas Sampiran Literasi, Ra Dien.

Transformasi pendopo ini menjadi bukti bahwa pembangunan tak melulu soal beton dan aspal. Kadang, yang dibutuhkan generasi muda adalah ruang—untuk berpikir, berbicara, dan bermimpi.

Baca Juga: Desa Tegalwangi Jasinga Bogor Pertahankan Tradisi Leluhur, Lestarikan Padi Lokal hingga Leuit

Pendopo Jasinga kini bukan sekadar bangunan, melainkan simbol keberpihakan pemerintah kepada akar budaya dan potensi pemuda pedesaan.