BOGOR, CEKLISSATU.COM - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, melakukan kunjungan kerja ke Kota Bogor, Rabu (28/1/2026). Dalam kunjungan tersebut, Wihaji meninjau pelaksanaan program DASHAT (Dapur Anak Sehat Atasi Stunting) di Kampung KB, Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal.
Kunjungan kerja ini turut didampingi Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin, Sekretaris Daerah Kota Bogor, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Wihaji menjelaskan bahwa program DASHAT saat ini masih dalam tahap uji coba selama dua bulan dan baru dilaksanakan di Kota Bogor. Program ini dikelola oleh kelompok ibu-ibu setempat dengan pendampingan tenaga ahli gizi dari puskesmas.
Baca Juga: Pemkot Bogor Siapkan Sistem Monitoring Penerima Program Makan Bergizi Gratis
“Ada program kita namanya DASHAT, Dapur Anak Sehat Atasi Stunting. Ini masih uji coba. Kita uji cobakan selama dua bulan di Kota Bogor untuk memastikan pelaksanaannya berjalan baik. Program ini berada di luar program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang telah dicanangkan Presiden,” ujar Wihaji kepada wartawan.
.
Menurut Wihaji, uji coba DASHAT memiliki tiga fokus utama. Pertama, memastikan menu makanan sesuai dengan ketentuan Peraturan Presiden Nomor 115 Pasal 47, khususnya untuk sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.
“Kita ingin memastikan menu bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD berbeda dengan menu anak sekolah, karena kebutuhan gizinya juga berbeda,” jelasnya.
Fokus kedua, lanjut Wihaji, adalah menjangkau kelompok sasaran yang belum sepenuhnya terlayani oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) seperti pulau-pulau terpencil.
“Nanti akan kita diskusikan bersama Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjawab kebutuhan di wilayah terpencil, terluar, dan terdalam agar bisa difasilitasi melalui program DASHAT,” katanya.
Baca Juga: Rakor TP3S Lintas Sektor, Penurunan Angka Stunting Jadi Prioritas Utama Pembangunan Kabupaten Bogor
Sementara fokus ketiga adalah memastikan ketepatan distribusi dan penerima manfaat, mulai dari waktu memasak, pendistribusian, hingga siapa yang benar-benar mengonsumsi makanan tersebut.
“Kita ingin memastikan yang makan benar-benar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Jangan sampai setelah ompreng ditinggal, justru dimakan orang lain,” tegas Wihaji.
Dalam uji coba ini, sekitar 100 penerima manfaat di wilayah tersebut mendapatkan makanan bergizi hasil olahan ibu-ibu DASHAT. Menu disesuaikan untuk balita, termasuk baduta (di bawah dua tahun), serta telah melalui pengecekan kandungan gizi oleh tenaga ahli.
Selain itu terkait cakupan program DAHSAT, Wihaji menegaskan bahwa program DASHAT saat ini baru diuji coba di Kota Bogor.
“Ini masih uji coba dan baru di sini karena aksesnya mudah dan dukungan pemerintah daerah sangat baik. Ke depan, justru kita ingin mengembangkan di daerah luar pulau dan wilayah terluar, seperti Natuna, agar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di sana juga mendapatkan layanan gizi yang layak,” pungkasnya.
Comment