BOGOR, CEKLISSATU - Riuh tepuk tangan bergema di sebuah kafe kecil. Suara itu memantul dari dinding ke dinding, seperti bola yang tak mau berhenti menggelinding. Malam itu, kafe yang biasanya tenang terasa lebih hidup dari biasanya.

 

Firman baru saja turun dari panggung. Lima belas menit ia tampil di sesi open mic, dan gelak tawa yang ia suguhkan mengalir tanpa putus seperti air sungai di musim hujan. Setiap candaan yang ia lontarkan tentang keseharian, tentang mahasiswa, tentang hidup yang kadang absurd, semuanya jatuh tepat sasaran. Namun, di balik riuh yang menyambutnya malam itu, tersimpan sunyi yang menemaninya selama dua puluh tahun.

 

Firman, mahasiswa Universitas Djuanda, saat ini adalah bagian dari komunitas Stand Up Indo Puncak. Dua tahun ia berlatih komedi tunggal ini dari belajar public speaking, melatih artikulasi, hingga menyampaikan keresahan menjadi tawa, tetapi jalan menuju panggung itu tidaklah mulus. Seperti sebuah kapal yang harus melewati badai dulu sebelum sampai ke pelabuhan, Firman dulu tenggelam dalam kesunyian yang hampir tak bersuara.

 

Dari seorang anak yang bahkan sulit mengucapkan kata, kini ia naik di atas panggung dan membuat puluhan bahkan ratusan orang tertawa. Dari seseorang yang tidak punya teman, kini ia memimpin beberapa organisasi sekaligus.

Baca Juga: Keluarga Besar DPN BMI Gelar Halalbihalal, Ketum Tekankan Pentingnya Persaudaraan dan Solidaritas

 

Firman juga mengakui bahwa sejak kecil, ia sebenarnya memiliki keinginan menjadi public speaker. Namun, keterbatasan dan ketakutan membuat mimpi itu terpendam lama. Kini, mimpi itu tidak lagi sekadar mimpi.

 

"Gue kecil pengen jadi public speaker, tapi aneh ya orang yang gagap pengennya bicara di depan umum. Mungkin justru karena gue tau rasanya gak bisa bicara, makanya gue pengen banget bisa," ujarnya sambil tersenyum.

 

Jika waktu bisa diputar dua puluh tahun ke belakang, panggung kafe itu mungkin terasa sejauh langit dari bumi bagi Firman kecil.

 

Saat kecil, ia adalah anak yang sulit berbicara. Bahkan, ia gagap. Kata-kata yang seharusnya mengalir justru tersangkut di tenggorokan, seperti air yang terjebak di sela-sela batu. Ia tidak bisa menggutarakan isi hati. Tidak bisa bertukar cerita. Bukan karena ia tidak ingin, tetapi karena tidak ada sosok yang bisa ia ajak bicara.