Ketidakhadiran ini baik secara fisik maupun emosional seperti rumah yang kehilangan satu tiang penyangga. Ia tetap berdiri. Atapnya masih utuh. Semua kebutuhan dan fasilitas terpenuhi, seperti yang Firman ceritakan.
Bagi seorang anak laki-laki, figur ayah seringkali menjadi sumber keberanian pertama. Dialah yang mengajarkan bagaimana berdiri setelah jatuh, bagaimana suara tegas tidak selalu berarti marah, bagaimana dunia ini tidak perlu ditakuti selama ada sosok di sampingmu, tetapi ketika sosok itu jauh atau hadir anak itu belajar dengan caranya sendiri bahwa dunia adalah tempat yang sunyi. Bahwa berbicara tidak selalu didengar. Bahwa suara mereka, mungkin, tidak penting.
Kian hari rasa sunyi itu tidak serta-merta hilang, tetapi mulai sirna perlahan bukan karena ada ayah yang tiba-tiba pulang, melainkan karena keberanian Firman untuk mengambil sebuah keputusan yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Firman merasakan itu semua. Perlahan, rasa percaya dirinya terkikis. Seperti tebing yang runtuh diterpa ombak, sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa hanya sisa-sisa keberanian yang nyaris habis.
Seolah alam semesta ikut berbisik melalui lantunan lagu Banda Neira: "Dan ketika kau terbiasa diam, tak akan mudah bagimu untuk bicara."
Itulah Firman. Terbiasa diam. Bukan karena tidak ingin bersuara, tetapi karena dunia di sekitarnya tidak pernah menyediakan ruang yang aman untuk suaranya.
Namun, hidup tidak selamanya diam di tempat.
Baca Juga: Diduga Menjual Minuman Mengandung Alkohol, Salah Satu Kafe di Katulampa Disegel Sementara
"Ilmu Komunikasi."
Dua kata itu membawa arah hidup Firman perlahan, seperti arus sungai yang semula terdampar di tepi, kemudian menemukan jalannya sendiri ke laut.
Orang-orang bilang, ilmu komunikasi identik dengan sosok ekstrovert yang pandai mengucapkan emosi, lincah dalam bicara, dan mahir merangkai kata. Namun Firman justru tumbuh sebagai anak yang terbiasa dengan diam. Sejak kecil, Firman belajar bahwa berbicara tidak selalu didengar. Bahwa suara Firman mungkin tidak penting. Maka memilih jurusan komunikasi baginya seperti seorang tunanetra yang tiba-tiba belajar tentang warna, atau seorang bisu yang mencoba menyanyikan lagu cinta.
Namun, hidup tidak selamanya diam di tempat.
Setelah bertahun-tahun tenggelam dalam kesunyian, bahkan sempat mengalami depresi karena merasa tidak memiliki dunianya sendiri, Firman mengambil keputusan yang mengubah segalanya Firman masuk jurusan Komunikasi di Universitas Djuanda. Bukan karena Firman sudah pandai berbicara. Bukan karena Firman ingin menjadi pusat perhatian, tetapi karena di dalam jurusan itu, untuk pertama kalinya Firman merasa diizinkan untuk bersuara dan mungkin, perlahan, belajar bahwa kata-kata Firman layak didengar.
"Gue sadar, keterbatasan gue bukan karena gue gak bisa ngomong. Tapi karena gue gak punya lingkungan yang bikin gue nyaman buat ngomong. Makanya gue memilih kuliah di komunikasi. Gue ingin melawan keterbatasan itu," katanya.