Nasi yang termasuk dalam makanan dengan indeks glikemik tinggi ini menjadi makanan utama orang Indonesia. Sedangkan beras sebagai bahan nasi yang diolah dari tanaman padi saat ini dicurigai telah terpapar residu yang berasal dari pestisida dan beragam jenis pupuk yang kesemuanya mayoritas berbahan kimia. Bukan dalam waktu singkat, tapi telah terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya.
Berdasarkan penelitian lembaga riset Marjaan Khatam, salah satu jalur utama masuknya pestisida ke dalam tubuh manusia adalah melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi residu pestisida, utamanya beras. Seiring waktu, hal ini dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia. Kondisi seperti hiperaktif, autisme (masalah serius dengan interaksi sosial, komunikasi verbal dan non-verbal, dan perilaku repetitif), masalah pernapasan, terutama asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), penyakit jantung, gangguan ginjal, penyakit autoimun kronis (seperti nyeri sendi), ruam kulit, kelelahan, artritis reumatoid, kerusakan genetik, insomnia, dan gangguan kognitif (kesulitan mengingat dan memproses informasi) telah dikaitkan dengan paparan pestisida.
Baca Juga: Penuhi Asupan Karbohidrat, Penderita Diabetes Sebaiknya Konsumsi Ini
Di antara pestisida yang banyak digunakan di dunia pada berbagai produk, termasuk beras, organofosfat adalah yang umum. Paparan jangka panjang terhadap bahan kimia ini dapat menyebabkan efek neurologis seperti sindrom down sedang (disabilitas intelektual), gangguan perilaku (yang dapat berbahaya seiring berjalannya waktu), defisit kognitif, dampak negatif pada gangguan perkembangan pervasif (keterlambatan dalam mengembangkan keterampilan sosial, bahasa, komunikasi, dll.), depresi, kecemasan, pikiran untuk bunuh diri, disfungsi hati, gangguan endokrin, masalah reproduksi, infertilitas, keguguran, diabetes, penyakit alzheimer, penyakit parkinson, dan kanker payudara (kanker paling umum yang terkait dengan organofosfat).