KOTA DEPOK, CEKLISSATU.COM -- Universitas Indonesia (UI) mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Sotya Astutiningsih, M.Eng. sebagai Guru Besar Tetap Bidang Material Konstruksi dan Bangunan Ramah Lingkungan, di Balai Sidang UI, pada Rabu (11/2/2026).

Dalam pidato pengukuhannya, ia menyoroti bahwa lonjakan populasi dunia meningkatkan kebutuhan perumahan dan infrastruktur, yang berpotensi menekan sumber daya alam. 

Karena itu, diperlukan langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan nasional tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
 
Menurut Prof. Sotya, pemanfaatan bahan baku sekunder adalah salah satu pendekatan kunci untuk memenuhi kebutuhan produksi bahan bangunan. 

Baca Juga: Satukan Kedokteran dan Gizi, Rektor IPB University: Hadirkan Model Baru Pendidikan Kesehatan Terintegrasi

Bahan baku sekunder dapat berupa material keluaran dari produk samping atau limbah yang dimanfaatkan sebagai masukan pada proses produksi lain. 

Limbah yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan Batubara, misalnya, menyumbang hampir 60 persen sumber energi di Indonesia. Residu ini bersifat reaktif yang dikenal sebagai abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash).
 
“UI berkolaborasi dengan SIG meneliti abu terbang dari berbagai sumber PLTU di Indonesia sebagai bahan baku sekunder, baik untuk menggantikan sebagian klinker pada semen Portland (SCM, supplementary cementitious materials) maupun sebagai bahan dasar (prekursor) semen geopolymer,” kata Prof. Sotya.
 
Prof. Sotya menemukan bahwa lebih dari 75 persen bahan geopolimer berasal dari limbah seperti abu terbang dan terak. Meski komposisi abu terbang dari tiap pembangkit berbeda-beda, bahan ini lebih hemat karena sudah berbentuk serbuk halus dan tidak perlu digiling lagi. 

Baca Juga: Mahasiswa Sains Komunikasi FISIP UNIDA Raih Penghargaan The Most Creative Brand Ambassador Tiebymin Batch 1 2026 Tingkat Nasional 

"Penggunaannya sebagai campuran semen Portland juga lebih mudah diterapkan dan tetap kuat meski mutu bahan bakunya bervariasi, dibandingkan dengan sistem semen geopolimer," terangnya.
 
Selain abu terbang, terak feronikel merupakan bahan baku sekunder paling prospektif untuk agregat beton. Terak feronikel ditimbulkan dari pengolahan bijih nikel lateritik pada smelter. 

Berbagai penelitian di UI menunjukkan bahwa mortar maupun beton berbahan terak feronikel sebagai agregat memiliki kuat tekan lebih tinggi dibandingkan mortar atau beton berbahan pasir biasa atau pasir kuarsa.

Tim peneliti FTUI membuat formulasi semen geopolimer berbasis terak nikel dari proses pembuatan nickel pig iron yang digiling menjadi serbuk halus dan menggunakan terak feronikel dari proses RKEF di PT Aneka Tambang sebagai agregat. 

Baca Juga: Apresiasi Program Satu TK Tiap Desa, Fahira Idris Urai Dampak Besarnya dan Sampaikan Lima Rekomendasi

Dari eksperimen ini, dihasilkan beberapa paten dan hasilnya dilanjutkan dengan uji coba aplikasi pada produk beton pracetak bekerja sama dengan PT Jaya Beton Indonesia.
 
Tak hanya itu, palm kernel shell atau cangkang kelapa sawit (CKS) juga dimanfaatkan sebagai pengganti agregat batu pecah pada beton. 

Hasil kajian tim peneliti FTUI yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menemukan bahwa dampak lingkungan dari penggunaan CKS sebagai agregat beton dibandingkan dengan agregat daur ulang serta agregat alam bersifat kontekstual bergantung pada kebutuhan performa mekanis dan aspek geografis. 

Dari sisi performanya, beton CKS memiliki kekuatan dan pola keruntuhan serta perilaku di bawah beban yang mirip dengan beton biasa namun lebih ulet, menjadikannya lebih tahan gempa.

Baca Juga: UI Sambut Dies Natalis Ke-76: Merawat Budaya, Menumbuhkan Sportivitas
 
Pemanfaatan bahan baku sekunder dalam industri konstruksi tidak hanya membuka peluang pengurangan limbah industri dan emisi karbon, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan material nasional. 

Penelitian Prof. Sotya terkait pemanfaatan bahan baku sekunder ini merupakan bagian dari peta jalan riset berkelanjutan di bidang rekayasa material konstruksi ramah lingkungan yang telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.
 
Sejumlah publikasi ilmiahnya memperkuat arah riset tersebut, antara lain A Comparative Study of the Life Cycle Assessment of Natural, Recycled and Oil Palm Shell Aggregate Concretes (2025); Mechanical and Physical Characteristics of Oil Palm Empty Fruit Bunch as Fine Aggregate Replacement in Ordinary Portland Cement Mortar Composites (2024); 

serta Experimental and Finite Element Analysis of Reinforced Concrete Beams Using Ferronickel Slag as Partial Replacement for Fine Aggregate Under Semi-Cyclic Loading (2024).

Baca Juga: 95 Persen Swasta, Guru Madrasah Swasta Minta Kebijakan Berkeadilan, Hasbulloh: Kami Mengabdi Puluhan Tahun, Tapi Akses PPPK Tertutup
 
Sebelum dikukuhkan sebagai guru besar UI, Prof. Sotya memperoleh gelar Sarjana Teknik dari FTUI pada 1991; M.Eng. in Metallurgy dari Katholieke Universiteit Leuven, Belgia pada 1994; dan Ph.D in Materials Engineering dari The University of Western Australia, Australia pada 2005. 

Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Laboratorium Fisika Material, FTUI (2021–2026) serta Anggota Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia periode 2024–2027.