‎Kelas dibuka dengan sesi perkenalan pemateri yang disambut hangat oleh mahasiswa FISIP. Ahmad Jiddan membawakan materi dengan gaya komunikasi khas generasi Z sehingga suasana kelas terasa santai namun tetap substansial. Hal tersebut membuat materi mudah diterima dan dipahami oleh mahasiswa.

‎Dalam pemaparannya, Jiddan turut membagikan pengalaman selama berkarier sebagai jurnalis, termasuk nilai-nilai profesionalisme yang harus dijunjung tinggi oleh wartawan.

‎“Serendah-rendahnya jurnalis, ketika berhadapan dengan presiden kita setara dengan presiden, begitu pun ketika berhadapan dengan tukang becak,” ujar Jiddan.

Baca Juga: BEM FISIP UNIDA Sukses Gelar Vivace Championship 2025: Ajang Prestasi dan Sportivitas

‎Tidak hanya membahas sisi suka, diskusi juga menyentuh sisi duka profesi wartawan. Salah satunya disampaikan melalui pertanyaan dari Listya Eka Putri, mahasiswi Sains Komunikasi, mengenai pengalaman paling berat yang pernah dialami pemateri selama menjadi jurnalis.

‎Menanggapi hal tersebut, Jiddan menjelaskan bahwa fleksibilitas waktu kerja menjadi tantangan tersendiri bagi wartawan.

‎“Dukanya, kulit semakin menghitam karena jam kerja yang fleksibel. Jam 12 malam pun masih bisa bekerja, dan tidak peduli dengan intervensi,” tambah Jiddan sambil tertawa.