KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU.COM – Program pengabdian masyarakat bertajuk Ngariung di Sukajadi yang digagas oleh mahasiswa Public Relations and Digital Communication (PRDC26-5SP) dari LSPR Institute of Communication & Business resmi dilaksanakan di Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, pada Senin (14/07/2025).
Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian program Community Development yang telah dirancang selama kurang lebih empat bulan.
Mahasiswa bekerja sama dengan berbagai unsur masyarakat untuk mengangkat potensi lokal desa melalui pendekatan edukatif, digital, dan komunikasi publik.
Ketua pelaksana kegiatan, Everine Tryandhini menyampaikan bahwa program ini tidak hanya sekadar kunjungan atau pelatihan, namun memiliki komitmen jangka panjang.
Baca Juga: LSPR Edukasi Warga Tingkatkan Potensi Wisata Edukatif Melalui Ngariung di Sukajadi
Salah satu bentuknya adalah pelaksanaan kegiatan “Sukajadi Kreatif” yang digelar pada 12 Juli 2025.
“Kami menggelar workshop media sosial bagi 10 pemuda terpilih dari Desa Sukajadi. Pelatihan ini membekali mereka dengan keterampilan dasar dalam membuat konten digital dan mengelola media sosial secara efektif," ungkapnya.
"Tujuannya agar mereka dapat mempromosikan potensi desa secara mandiri dan berkelanjutan,” tambah Everine.
Menurutnya, pelatihan ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 tentang pendidikan berkualitas.
Baca Juga: Mahasiswa Desak Pemerintah Usut Tuntas Krisis Alih Fungsi di Puncak
LSPR meyakini bahwa pendidikan adalah pondasi penting untuk pengembangan komunitas, termasuk dalam membangun desa wisata yang maju.
Sebagai puncak acara, kegiatan Ngariung di Sukajadi juga melibatkan peserta dari Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Bogor dalam sesi field trip edukatif.
Para peserta diajak mengenal langsung potensi desa, mulai dari budidaya stroberi, jamur tiram, sistem pertanian menanam padi dan menanam sayur, hingga proses pembuatan kue tradisional noga.
“Melalui kegiatan ini, teman-teman bisa mendapatkan pengalaman langsung mengenai potensi desa, tidak hanya dari sisi pariwisata, tapi juga dari aspek budaya dan pertanian,” jelas Everine.
Tak hanya itu, sebagai bentuk kontribusi konkret, mahasiswa LSPR juga melakukan pembukaan plang identitas Desa Wisata Sukajadi.
Plang tersebut menjadi sarana promosi dan penanda yang diharapkan dapat membantu meningkatkan visibilitas desa di mata wisatawan.
“Plang ini adalah wujud dukungan kami terhadap SDGs nomor 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan. Kami berharap melalui identitas visual yang jelas, Desa Sukajadi bisa lebih dikenal secara luas,” tambahnya.
Sebagai bagian dari agenda, juga digelar Creative Content Competition bagi para peserta pramuka, di mana mereka diajak membuat konten digital berdasarkan pengalaman mereka selama di desa.
Kompetisi ini diharapkan menjadi wadah ekspresi dan promosi desa melalui pendekatan kreatif ala generasi muda.
“Kegiatan ini bukan hanya soal edukasi satu arah, tapi juga kolaborasi. Kami sangat berterima kasih atas sambutan hangat dari warga, dukungan aparatur desa, serta kepercayaan yang diberikan kepada kami," tandasnya.
"Semoga Ngariung di Sukajadi menjadi awal kolaborasi yang lebih kuat dan berdampak ke depan,” tutur Everine.
Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Kabupaten Bogor, Abas Helmi, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Ia menegaskan bahwa Desa Sukajadi termasuk dalam kategori community-based tourism (CBT) yang berbasis pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: Bupati Bogor Rudy Susmanto Terima Audiensi Himpunan Mahasiswa Rumpin, Ini yang Dibahas
“Pariwisata desa itu nyawanya ada di masyarakat. Maka, kolaborasi antara warga, akademisi, pemerintah dan media, sangat penting untuk mengembangkan desa wisata. Terima kasih kepada LSPR dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini,” ujar Abas.
Ia juga menjelaskan bahwa program seperti ini sangat sejalan dengan strategi pengembangan desa wisata yang dijalankan oleh pemerintah daerah.
Forum yang ia pimpin menjadi penghubung antara desa, kecamatan, hingga kabupaten untuk memastikan kesinambungan dan komunikasi yang efektif dalam pembangunan pariwisata lokal.
Abas juga memberikan pembaruan terkait perkembangan desa wisata di Kabupaten Bogor. Ia menyampaikan bahwa sejak diterbitkannya Peraturan Bupati Nomor 26 Tahun 2024, sebanyak 28 desa telah ditetapkan resmi sebagai desa wisata oleh Bupati.
Baca Juga: 22 Calon Mahasiswa ITB dapat Bantuan dan Pendidikan dan Laptop, Dedi Mulyadi Sampaikan Ini
Jumlah tersebut akan terus bertambah hingga tahun 2026, sesuai proses verifikasi dan pengesahan yang berjalan.
“Dulu hanya kepala desa yang bisa menetapkan status desa wisata. Sekarang ditetapkan oleh Bupati. Tahun ini ada 28 desa yang resmi. Desa Sukajadi adalah salah satu desa yang potensial masuk dalam daftar berikutnya,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga citra desa wisata, terutama dari hal-hal negatif seperti pungutan liar (pungli) yang kerap terjadi di beberapa lokasi wisata populer.
“Kabupaten Bogor memang sedang ramai wisatawan, tapi beberapa tempat juga disorot karena praktik pungli. Kami pastikan bahwa desa wisata yang terdaftar dan dibina, termasuk Sukajadi, mengutamakan pelayanan dan pengalaman wisatawan yang aman dan positif,” tegasnya.
Untuk itu, pihak forum terus mendorong penerapan nilai Sapta Pesona dalam pengelolaan desa wisata, seperti menjaga keamanan, kebersihan, dan kenyamanan wisatawan. Edukasi kepada warga desa dilakukan secara rutin sebagai bagian dari proses pembinaan. (DIDIK RUYATMAN)
Comment