JAKARTA, CEKLISSATU.COM - Penambangan pasir laut di sekitar Pulau Numbing, Kepulauan Riau, tak hanya membuat perairan berpotensi semakin keruh, tetapi juga dapat mengganggu ekosistem terumbu karang yang menjadi habitat berbagai biota laut, termasuk ikan kerapu sunu.
Pakar biologi laut IPB University, Dr Meutia Samira Ismet, mengungkap sejumlah dampak ekologis yang perlu menjadi perhatian dari aktivitas penambangan pasir laut perairan tersebut.
Menurut Dr Meutia, peningkatan partikel tersuspensi akibat penambangan pasir laut dapat menghambat penetrasi cahaya matahari dan mengganggu kehidupan terumbu karang serta lamun.
Baca Juga: Rayakan HUT ke-81 RI dengan Cara Berbeda, Desa Mawambunga Buton Bergerak Selamatkan Ekosistem Laut
Jika kerusakan habitat terus berlangsung, kerapu sunu yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap ekosistem terumbu karang juga berpotensi terdampak, mulai dari terganggunya pertumbuhan hingga ketersediaan mangsanya.
"Dengan adanya pengerukan, tingkat partikel tersuspensi akan meningkat dan menyebabkan kekeruhan perairan. Ini tentu dapat berdampak terhadap keberlangsungan ekosistem pesisir, terutama terumbu karang dan lamun," jelas Dr Meutia, dalam keterangannya, Rabu (23/9/2026).
Ia mengatakan, meningkatnya kekeruhan dapat menghambat penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan.
Kondisi ini berpotensi mengganggu organisme yang melakukan fotosintesis, termasuk alga Zooxanthellae yang memiliki hubungan simbiosis dengan karang.
Pada saat yang sama, pasir dan debu yang tersuspensi dapat menutupi polip karang sehingga menghambat kehidupan dan pertumbuhannya. Gangguan terhadap terumbu karang ini dapat menimbulkan efek domino terhadap biota lain.
"Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai organisme laut yang saling berinteraksi dalam suatu ekosistem. Ketika kualitas habitat menurun, keanekaragaman dan kelimpahan organisme yang bergantung pada ekosistem tersebut juga berpotensi mengalami penurunan," ujarnya.
Baca Juga: Pulihkan Ekosistem Merbabu, Mahasiswa Teknik UNDIP Gelar Aksi Restorasi
Dr Meutia menerangkan, salah satu biota yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem terumbu karang adalah ikan kerapu sunu.
"Kerapu sunu merupakan ikan karang yang bersifat teritorial yang memiliki keterikatan yang sangat tinggi terhadap wilayah habitatnya. Ketika habitat terganggu, kehidupan dan pertumbuhannya juga dapat ikut terganggu," terangnya.
Selain bersifat teritorial, kerapu sunu merupakan predator tingkat atas yang membutuhkan ketersediaan mangsa di dalam ekosistem. Peningkatan kekeruhan dapat mengganggu kemampuan visual ikan dalam menemukan dan menangkap mangsa. Akibatnya, perubahan kondisi habitat dapat berpengaruh terhadap ketersediaan makanan dan pertumbuhan kerapu sunu.
Baca Juga: Heboh Fenomena Kerang Bambu Naik ke Permukaan di Pamekasan
Dr Meutia menambahkan, peningkatan bahan organik akibat penambangan pasir laut juga dapat mendorong pertumbuhan makroalga secara berlebihan. Pertumbuhan makroalga yang lebih cepat dibandingkan karang dapat mengubah keseimbangan ekosistem dan menutupi terumbu karang.
Perubahan nutrisi perairan juga berpotensi menurunkan oksigen serta mengganggu keseimbangan mikroorganisme, termasuk meningkatkan risiko berkembangnya bakteri oportunis seperti Vibrio.
Dampak tersebut, lanjutnya, dapat berlangsung dalam jangka panjang apabila aktivitas gangguan terjadi secara terus-menerus dan menyebabkan degradasi terumbu karang. Ekosistem yang telah mengalami kerusakan membutuhkan waktu panjang untuk pulih secara alami.
Baca Juga: Pasca Banjir, Pemerintah dan Warga Lakukan Pengerukan Sungai Cibeteung di Rancabungur
"Ketika terumbu karang yang sehat mengalami degradasi, pemulihannya secara alami akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi keanekaragaman hayati, termasuk jumlah dan kesehatan kerapu sunu," tuturnya.
Comment