JAKARTA, CEKLISSATU.COM - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mencatat timbulan sampah sisa perayaan malam Tahun Baru 2026 mencapai 91,41 ton.
Angka tersebut menurun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai 132 ton.
Penurunan volume sampah itu seiring kebijakan peniadaan kembang api dan konsep perayaan yang lebih sederhana di sejumlah titik Jakarta.
Baca Juga: Tim Pengmas UI Bersama Komunitas Bank Sampah Ruby Depok Kembangkan Komik Edukasi Pemilahan Sampah
"Personel dan armada dikerahkan di beberapa titik, di antaranya kawasan Bundaran HI, Jalan Sudirman–MH Thamrin, Sarinah, Dukuh Atas, Semanggi, kawasan SCBD dan Bursa Efek Indonesia, Monas dan seluruh Jalan Medan Merdeka, Patung Pemuda Membangun, Lapangan Banteng serta kawasan Istiqlal dan sekitarnya," kata Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, Kamis (1/1/2026).
Asep mengungkapkan, proses pembersihan sampah sisa perayaan malam tahun baru dilakukan secara cepat dan terkoordinasi sejak malam hingga dini hari.
Meski jumlah pedagang kaki lima (PKL) meningkat dan hujan ringan sempat turun, pembersihan sampah tetap bisa dilakukan secara manual menggunakan sapu dan pengki.
"Basahan air hujan membuat sampah menempel di jalan dan berat sampah bertambah karena mengandung air. Namun, personel berhasil menuntaskan pembersihan menjelang Subuh. Jakarta sudah kembali bersih," terangnya.
Ia menjelaskan, penurunan timbunan sampah tidak terlepas dari kebijakan pelarangan kembang api, kondisi cuaca serta konsep perayaan tahun baru yang lebih sederhana dan bermakna.
DLH juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para petugas kebersihan yang tetap bekerja menjaga wajah kota. Begitu pula dengan warga yang telah berpartisipasi aktif menjaga kebersihan dengan mengurangi serta membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.
"Kesadaran warga ini sangat membantu dan menjadi kunci terciptanya perayaan yang tertib, nyaman dan bersih," jelasnya.
Baca Juga: Kapolda Jawa Barat Larang Petasan dan Kembang Api Saat Pergantian Tahun, Ganti Jadi Ini
Asep menambahkan, perayaan Tahun Baru 2026 di Jakarta digelar dengan pendekatan reflektif melalui doa bersama sebagai wujud empati terhadap masyarakat terdampak bencana alam di Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh.
"Semangat kebersamaan ini sejalan dengan upaya menjaga kebersihan, ketertiban dan nilai kemanusiaan di ruang-ruang publik Jakarta," tandasnya.
Comment