Terlebih pola pikir yang ditanamkan di masyarakat sipil dengan dunia militer terlihat cukup berbeda.
"Itu mau masuk militer, atau masuk pesantren? Jadi gini lah dalam dunia pendidikan, kalau ada masalah itu, tidak harus kemudian diserahkan kepada institusi lain dulu," ucap Cecep saat dihubungi di Bandung, Selasa (29/04/2025).
"Kan gini ya, orang anak nakal itu itu kan tidak bisa diseragamkan masalahnya kan bisa beda-beda dan TNI bukan obat segala masalah,” kata Cecep.
Selain itu, ia juga menyoroti Dedi Mulyadi yang tidak komprehensif dalam menjelaskan program yang dicanangkan ya kepada publik. Sehingga membuat publik multi tafsir dalam memahami kebijakan yang disampaikan olehnya.
Menurutnya, Dedi Mulyadi mungkin tidak bermaksud untuk menerapkan konsep wajib militer, namun bermaksud untuk melakukan pendidikan karakter berbasis bela negara sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019.
Baca Juga: Diancam akan Dibunuh dan Dibom, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi: Itu Risiko Seorang Pemimpin
“Jadi ini walaupun niatnya mungkin baik ya, harus kita hargai lah Pak Dedi itu. Kalau saya konsepnya bukan pendidikan militer seperti Wamil tetapi pendidikan pendahuluan Bela Negara," terangnya.
Comment