BOGOR, CEKLISSATU - Siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Ciawi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, khususnya yang duduk di kelas v, terpaksa harus mengeluarkan uang ratusan ribu untuk membeli angklung. Berdalih sudah hasil musyawarah antara komite sekolah dengan orangtua siswa, setiap siswa dikenakan pembelian angklung mulai dari Rp.120 ribu sampai Rp.150 ribu yang dikoordinir langsung oleh guru setempat.
Saat dikonfirmasi, Kepala SDN 2 Ciawi, Misbah membenarkan adanya pembelian alat musik angklung yang dibebankan kepada semua siswa kelas v berjumlah sekitar 100 anak. Namun, pembelian angklung itu sebelumnya sudah dilakukan musyawarah antara komite sekolah dengan pihak orangtua siswa.
"Setelah hasil kesepakatan saat musyawarah, orangtua siswa bersedia membeli angklung dengan harga bervariatif mulai dari Rp.120 ribu hingga Rp.150 ribu. Tergantung jenis suara angklung nya, ada yang rendah dan tinggi," ungkapnya kepada wartawan saat dikonfirmasi di ruang guru SDN 1 Ciawi yang lokasinya bersebelahan dengan SDN 2 Ciawi, Senin (23/9).
Baca Juga : Deklarasi Kampanye Damai Pilkada Kabupaten Bogor 2024
Misbah menjelaskan, alat musik angklung merupakan budaya sunda yang keberadaannya harus dipertahankan. Terlebih, pelajaran alat musik angklung saat ini sudah termasuk kedalam kurikulum seni budaya sunda.
"Kebetulan di sekolah saya ada guru seni budaya sunda yang sudah mahir memainkan alat musik angklung. Guru tersebut yang mengajarkan siswa kelas v bermain musik angklung," paparnya.
Saat ditanya kenapa pengadaan angklung tidak dialokasikan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), malah dibebankan kepada orangtua siswa, Misbah mengungkapkan, apabila angklung itu dibeli melalui dana BOS, nantinya akan menjadi aset sekolah dalam hal ini milik negara.
"Kalau yang membeli orangtua siswa, mereka bisa membawa pulang ke rumah masing-masing angklung tersebut. Di rumah siswa bisa sambil belajar lagi cara memainkan nya," kilahnya.
Misbah pun membantah jika dalam pembelian angklung itu, ada campur tangan pihak sekolah. Pasalnya, orangtua siswa langsung memesan kepada pihak ketiga tanpa melalui sekolah.
"Pembelian nya langsung dilakukan oleh orangtua siswa dengan pihak ketiga," imbuhnya.
Sementara, informasi dari orangtua siswa yang namanya enggan disebutkan memaparkan, pembelian angklung itu dinilai terpaksa dan sedikit ada penekanan dari salah seorang guru. Sebab, semua orangtua siswa kelas v tidak bisa menolak saat diajak musyawarah oleh komite.
"Kami harus membeli alat musik angklung, lantaran masuk dalam kurikulum seni budaya. Ada nilai raport juga untuk anak, itu yang membuat kami merasa tertekan. Dan cara memberitahukan kami agar cepat melunasi pembayaran angklung oleh guru yang bekerjasama dengan pihak pengadaan barang, sedikit menekan dan memaksa," tukas orangtua siswa yang berdomisili di Kecamatan Ciawi tersebut melalui pesan WhatsApp.
Comment