BOGOR, CEKLISATU - Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menegaskan bahwa Kota Bogor memiliki legitimasi sejarah yang kuat sebagai salah satu lokasi berdirinya Kerajaan Pajajaran. Penegasan tersebut disampaikan usai menghadiri kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Perumusan Narasi Museum Pajajaran Kota Bogor yang digelar di kawasan Bumi Ageung Batutulis, Jalan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Rabu (17/12/2025).
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat sebagai bagian dari upaya perumusan narasi dan pengembangan Museum Pajajaran ke depan.
Dedie menjelaskan bahwa pandangan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, saat berkunjung ke Situs Prasasti Batutulis beberapa waktu lalu.
Baca Juga: DPRD Gelar Paripurna Rayakan Hari Jadi Bogor ke-543, Suarakan Pelestarian Alam Demi Keseimbangan
“Sesuai dengan arahan Menteri Kebudayaan, Bapak Fadli Zon, pada saat beliau berkunjung ke Bumi Ageung Batutulis, beliau menyebutkan bahwa tidak ada keraguan Kota Bogor sebagai salah satu lokasi atau tempat berdirinya Kerajaan Pajajaran, dan menetapkan diri untuk mempunyai museum bernama Museum Pajajaran,” ujar Dedie kepada wartawan.
Menurutnya, secara historis dan faktual, Kota Bogor memiliki bukti kuat berupa artefak dan peristiwa penting yang mempertegas peran strategisnya dalam sejarah Pajajaran, termasuk penobatan Sri Baduga Maharaja serta keberadaan Prasasti Batutulis.
“Jadi intellectual property right untuk Museum Pajajaran adalah Kota Bogor. Kenapa? Karena fakta sejarahnya menunjukkan bahwa Sri Baduga Maharaja dinobatkan di sini, dan ada Batutulis sebagai artefak utamanya,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dedie juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam merumuskan narasi Museum Pajajaran agar tidak hanya menjadi ruang pamer artefak, tetapi juga berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan edukasi sejarah yang menarik bagi generasi muda.
“Ke depan, kita perlu bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, BPK Wilayah IX, para narasumber, ahli, sejarawan, budayawan, hingga seniman untuk bersama-sama merumuskan bagaimana Museum Pajajaran ini menjadi tempat pembelajaran, edukasi, sekaligus edutainment bagi anak-anak dan generasi muda,” tuturnya.
Ia berharap Museum Pajajaran mampu memperkuat pemahaman masyarakat mengenai kontribusi Kerajaan Pajajaran, khususnya masyarakat Sunda, dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
“Agar kita paham bahwa dari sinilah ada kontribusi penting bagi perkembangan bangsa Indonesia, yang diisi oleh masyarakat Sunda dan salah satunya berasal dari Kota Bogor yang pada saat itu dikenal sebagai Kerajaan Pakuan Pajajaran,” pungkas Dedie.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Firdaus, mengatakan bahwa forum diskusi tersebut menjadi langkah strategis dalam menentukan arah pengembangan Museum Pajajaran ke depan, khususnya dalam penyusunan narasi dan storyline museum.
“Tadi ada forum diskusi yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat. Salah satunya membahas bagaimana merumuskan narasi ke depan seiring dengan pembangunan lanjutan Museum Pajajaran,” kata Firdaus.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan tahap pertama berupa Gedung Bumi Ageung Batutulis telah rampung. Selanjutnya, fokus akan diarahkan pada pengembangan isi museum, termasuk penataan koleksi dan penguatan alur cerita sejarah.
“Pembangunan pertama sudah selesai dengan adanya Gedung Bumi Ageung Batutulis. Sekarang, melalui Kementerian Kebudayaan dan BPK Wilayah IX, kita akan merumuskan langkah-langkah selanjutnya terkait storyline museum, bagaimana museum ini terus berkembang, termasuk koleksi-koleksi yang akan diisi,” jelasnya.
Firdaus menambahkan, penyusunan narasi museum tidak dapat dilakukan secara sepihak, melainkan harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan agar menghasilkan narasi sejarah yang kuat, utuh, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Tidak bisa kita menunjuk A atau B saja, tetapi harus melibatkan seluruh kepentingan yang dapat memberikan masukan dalam menentukan narasi storyline Museum Pajajaran,” tandasnya.
Comment