Berdasarkan data yang dihimpun, uji coba trem di Kota Bogor akan dijadwalkan pada 2026. Jika nantinya beroperasi penuh, moda transportasi ini akan dilengkapi 17 halte.
Trem tersebut juga dirancang sebagai feeder LRT yang akan terhubung hingga Terminal Baranangsiang. Skema ini diharapkan mampu menekan tingkat kemacetan di Kota Bogor.
Solusi Wujudkan Bogor Lancar
Rencana pengoperasian trem dinilai sebagai langkah strategis dalam membangun sistem transportasi massal yang terintegrasi guna mendukung program Bogor Lancar. Selain memiliki daya angkut besar, moda berbasis rel juga menawarkan kepastian waktu tempuh.
Pengamat transportasi Yayat Supriatna menilai, sistem angkutan umum berbasis rel menjadi kunci apabila Bogor ingin mendorong 60 persen warganya beralih ke transportasi publik.
“Kalau kita ingin mendorong orang Bogor 60 persen menggunakan public transport, jawabannya adalah berbasis rel,” ujarnya.
Ia mencontohkan Jakarta yang telah membuktikan efektivitas moda berbasis rel melalui pengembangan MRT, LRT, dan KRL secara masif. Menurutnya, kepastian jadwal dan kapasitas besar menjadi faktor utama keberhasilan sistem tersebut.
Yayat juga menyoroti keunggulan trem modern yang menggunakan baterai sehingga tidak membutuhkan kabel listrik di udara. Dua gerbong trem berbasis baterai dinilai setara dengan dua unit bus tanpa memerlukan tambahan prasarana besar.
“Tinggal memperkuat jaringan jalan khususnya jembatan yang mungkin harus diperkuat,” tuturnya.
Selain fungsi transportasi, konsep trem dinilai dapat memperkuat citra Bogor sebagai kota dengan transportasi hijau. Jalur trem yang melintasi kawasan Kebun Raya Bogor disebut berpotensi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Comment