KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU.COM – Kepala Desa Sukagalih, Aja Waridin menyebutkan bahwa pengeboran sumur bukan solusi yang efektif untuk mengatasi krisis air bersih yang melanda wilayahnya.
Pasalnya, dua titik pengeboran yang dilakukan bahkan hingga kedalaman 200 meter tidak membuahkan hasil.
"Sudah dua titik pengeboran sampai 200 meter, tetap tidak ada air, yang ada cadas hitam, bukan air tanah," ungkap Aja Waridin kepada ceklissatu.com.
"Kalau diteruskan, justru bisa bahaya karena bisa keluar gas," tambah Aja Waridin.
Baca Juga: Musim Kemarau Sumber Air Mengering, Petani Kampung Cimendo Jonggol Belum Bisa Menanam
Ia menjelaskan, kekeringan ini adalah peristiwa tahunan yang hampir pasti terjadi setiap bulan Agustus dan September.
Sekitar 800 warga terdampak langsung, termasuk fasilitas umumn seperti SD, SMP satu atap, dan sejumlah masjid.
“Kekeringan Cimendo ini dari dulu, setiap tahun tuh pasti ada, jadi warga kita kalau udah bulan 8 dan 9 udah mulai waspada wanti-wanti,” jelas dia.
“Ada 800 warga yang terdampak, termasuk fasilitas umum SD, SMP, dan masjid,” sambungnya.
Menurut Aja, solusi jangka panjang yang paling realistis adalah pembangunan jaringan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
“Kami sudah ajukan ke PDAM, cuma katanya kuota airnya belum cukup dan masih nunggu bendungan, tapi saya pikir ini satu-satunya jalan, kalau bikin sumur bor terus, cuma buang duit," tegasnya.
Ia juga menekankan perlunya kerja sama antara pemerintah desa dan pemerintah daerah agar PDAM bisa masuk dengan skema subsidi.
“Jangan PDAM mandiri, harus yang subsidi, supaya warga juga nggak terbebani bayarnya," tutupnya.
Comment