BOGOR, CEKLISSATU – Suasana khidmat dan penuh kehangatan menyelimuti Vihara Dhanagun, Kota Bogor, saat ratusan anak yatim mengikuti buka puasa bersama di hari pertama rangkaian menuju perayaan Cap Go Meh (CGM). Sebanyak 400 anak yatim dari seluruh kecamatan di Kota Bogor hadir dalam kegiatan yang digelar panitia CGM bersama Pemerintah Kota Bogor, bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Momentum langka ini menjadi simbol kuat kerukunan antarumat beragama di Kota Hujan. Di tengah ornamen khas vihara, lantunan doa berbuka puasa menggema, menghadirkan harmoni di antara perbedaan yang menyatu dalam kebersamaan.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang turut hadir dalam acara tersebut, menegaskan bahwa tradisi berbuka puasa di lingkungan vihara merupakan gambaran nyata toleransi yang telah mengakar di Kota Bogor.
Baca Juga: Buka Puasa Bersama Anak Yatim di Vihara Dhanagun Bogor
“Ramadan yang bersanding dengan Cap Go Meh ini mungkin satu-satunya di Indonesia, dan itu adanya di Bogor. Setiap tahun, buka puasa selalu diselenggarakan di Vihara Dhanagun. Ini adalah bentuk solidaritas, toleransi, dan cara kita menguatkan silaturahmi antarwarga,” ujarnya.
Dedie menambahkan, keterlibatan para tokoh agama dan masyarakat dari berbagai latar belakang menjadikan Bogor sebagai kota dengan tingkat keberagaman dan toleransi yang sangat tinggi.
Sementara itu, Ketua Panitia Cap Go Meh Kota Bogor, Arifin Himawan, menjelaskan bahwa santunan kepada anak yatim ini menjadi pembuka rangkaian perayaan yang lebih besar. Panitia berkoordinasi dengan perwakilan kecamatan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.
“Hari ini kami mengundang 400 anak yatim dari setiap kecamatan di Kota Bogor. Ini awal perayaan menuju Cap Go Meh. Kami ingin berbagi kebahagiaan di tengah suasana bulan suci,” jelas Arifin.
Ia juga menegaskan bahwa perayaan tahun ini disesuaikan dengan suasana Ramadan. Panitia mengedepankan penghormatan terhadap umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa.
Selama tiga hari, masyarakat tetap dapat menikmati Pasar Malam Jadul di kawasan Jalan Surya Kencana dengan nuansa tempo dulu. Adapun puncak acara berupa parade budaya dan barongsai akan dilaksanakan pada 3 Maret, setelah jamaah menunaikan salat Tarawih.
Karena bertepatan dengan Ramadan, skala perayaan dibuat lebih terbatas. Partisipasi pengisi acara dibatasi dari internal Kota Bogor guna menjaga kekhusyukan suasana ibadah.
“Tahun ini berbeda karena bertepatan dengan Ramadan. Waktu lebih terbatas, sehingga parade dan barongsai tidak semeriah tahun lalu agar tidak mengganggu jalannya ibadah,” tambah Arifin.
Comment