BOGOR, CEKLISSATU– Suasana Car Free Day (CFD) di kawasan Alun-alun Kabupaten Bogor, Minggu (2/8/2026), tampak berbeda dari biasanya. Para pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku UMKM yang berjualan kompak mengenakan pakaian adat Sunda. Pedagang perempuan tampil anggun dengan kebaya, sementara pedagang laki-laki mengenakan pangsi.

Nuansa budaya yang kental itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Tak sedikit warga yang mengabadikan momen para pedagang berpakaian adat melalui foto dan video.

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, penggunaan pakaian adat Sunda oleh pelaku UMKM merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Bogor menghidupkan kembali identitas budaya Sunda di ruang publik.

Menurut Rudy, semangat tersebut sejalan dengan penataan Alun-alun Kabupaten Bogor yang dilakukan tanpa membangun kawasan baru, melainkan dengan menata ulang area yang sudah ada. Pemerintah juga membangun Tugu Tritantu Tribuana, merevitalisasi Tugu Lawangkori, serta menghadirkan berbagai ikon budaya Sunda.

Baca Juga: Satpol PP Kabupaten Bogor Sapu Bersih PKL di Ruang Publik, 89 Pedagang Kena Tipiring

"Para pelaku UMKM kita ajak menggunakan pakaian adat Sunda. Orang Bogor adalah orang Sunda. Kami hanya berupaya mengembalikan marwah dan kehormatan orang Bogor, bahwa sejatinya orang Bogor adalah orang Sunda," ujar Rudy pada awak media, Minggu (2/8/2026).

Salah seorang pedagang, Debi Syntia (33), pemilik usaha dimsum dan es mambo, mengaku senang mengenakan kebaya saat berjualan di CFD.
Menurutnya, penampilan tersebut membuat lapaknya lebih menarik perhatian pengunjung. Bahkan banyak orang yang berhenti untuk merekam video karena menganggap konsep tersebut unik.

"Alhamdulillah jadi lebih ramai dan menarik. Kebetulan saya sudah punya kebaya, jadi tinggal dipakai. Saya juga nyaman memakai kebaya, sekalian melestarikan budaya Sunda karena kita juga di Bogor," kata Debi.