Saat Belanda melancarkan Agresi Militer II pada tahun 1948, ia memilih ikut gerilya bersama laskar rakyat, dan hutan-hutan serta perbukitan di sekitar Cileuksa menjadi salah satu basis perlindungannya.

Baca Juga: 20 Unit Huntap Korban Bencana di Cileuksa Sukajaya Diserahkan kepada Keluarga Penerima Manfaat

Selain nilai sejarah dan kekayaan alam, wilayah ini juga memiliki potensi besar dalam bidang ekowisata dan agrowisata edukatif.

Jika dikembangkan secara bijak, jalur ini bisa menjadi tempat belajar bagi generasi muda tentang hubungan manusia dengan alam, serta mengenalkan kembali nilai-nilai patriotisme lokal yang mulai memudar.

"Bayangkan satu kawasan yang memadukan edukasi sejarah, pertanian tradisional, konservasi hayati, dan keindahan lanskap. Ini bukan sekadar potensi, ini aset budaya dan geografis yang luar biasa,” ucap penulis seraya menaruh mimpi di kawasan Bogor Barat secara berkelanjutan.

Meski jalur Cileuksa–Ngasuh belum sepenuhnya beraspal dan masih memiliki keterbatasan infrastruktur, banyak pihak menilai itu justru menjadi daya tarik tersendiri. Keasrian dan keotentikan kawasan ini adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Baca Juga: Tanggap Cepat Aduan Warga, UPT Irigasi Kelas A Wilayah V Jasinga Tinjau Longsor di Sungai Cipaneungteung

Diperlukan kebijakan pembangunan yang ramah lingkungan dan berpihak pada masyarakat lokal, agar kawasan yang pernah menjadi saksi perjuangan Bupati pertama Bogor ini tidak hanya menjadi tempat yang indah untuk dikunjungi, tapi juga penuh makna untuk dikenang.