BOGOR, CEKLISSATU – Pemerintah Desa Cileungsi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, berkomitmen memberantas penyakit HIV/AIDS. Penyuluhan dan rapid tes pun digelar Pemdes Cileungsi pada Kamis (12/6/2025).
Penyuluhan dan rapid tes yang dilaksanakan di balai desa ini diikuti lebih dari 90 peserta terdiri dari kader Posyandu, RT, RW, Kepala Dusun, perangkat desa, dokter puskesmas, dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Bogor.
Kepala Desa Cileungsi, Baban Subandi, menegaskan, kegiatan penyuluhan dan rapid tes digelar karena telah ditemukan kasus HIV di desanya. “Menurut informasi yang kami terima, memang sudah ada kasus HIV di Desa Cileungsi. Karena itu, kami mengalokasikan Dana Desa untuk menyelenggarakan kegiatan ini,” ujarnya.
Baca Juga: Cegah Penyebaran HIV/AIDS di Bogor, Dinkes Ajak Lekas bersama FWBS Lakukan Ini
Melalui kegiatan tersebut, kata Baban, diharapkan peserta penyuluhan bisa menjadi penyambung informasi ke masyarakat luas tentang bahaya HIV/AIDS dan cara pencegahannya.
"Edukasi ini penting untuk menghindari terjadinya penularan baru. Kami ingin masyarakat tahu bagaimana HIV menular dan bagaimana menghindarinya. Kami juga belajar dari LEKAS (Lembaga Kajian Strategis) ternyata penyebaran HIV di tingkat kabupaten sudah sangat serius. Sebagian besar memang berasal dari komunitas dengan pemahaman seksual yang rendah," paparnya.
Baban menekankan bahwa meski data kasus tidak sepenuhnya terbuka karena alasan privasi tapi masyarakat perlu peka. “Kalau ada satu kasus yang terdeteksi, bisa jadi ada banyak yang belum terungkap. Ini yang paling berbahaya karena kurangnya kesadaran.”
Ketua Yayasan Lekas sekaligus Wakil Ketua KPA Kabupaten Bogor, Muksin, menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai bentuk respons cepat terhadap meningkatnya kasus HIV/AIDS, khususnya di Kecamatan Ciawi.
“Kami mengapresiasi inisiatif Pemerintah Desa Cileungsi yang menyelenggarakan kegiatan ini. Sudah ada warga yang terinfeksi HIV, bahkan ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua,” ungkap Muksin.
Menurutnya, kegiatan ini terdiri dari dua langkah besar: promosi dan preventif. “Promosi dilakukan melalui edukasi tentang bahaya HIV, cara penularan, serta pentingnya tidak mendiskriminasi orang yang terinfeksi. Preventif akan kami realisasikan melalui pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA) di setiap RW hingga RT”.
Baca Juga: Zero New Cases dan Ending AIDS 2030, Ini yang Dilakukan Pemkot dan KPA Kota Bogor
Lebih lanjut, Muksin menjelaskan bahwa struktur KPA akan diperkuat hingga ke tingkat desa dan RW, melibatkan elemen masyarakat seperti pemuda, kader Posyandu, dan tokoh agama. “Kami bahkan sudah membentuk kelompok Ustadz Peduli AIDS yang tahun lalu dideklarasikan. Tujuannya, agar pesan-pesan pencegahan bisa disampaikan dari mimbar ke mimbar,” tambahnya.
Ancaman HIV pada Generasi Muda
Muksin juga mengungkapkan keprihatinan atas meningkatnya jumlah kasus HIV di kalangan generasi muda. “Angka tertinggi ditemukan pada kelompok usia produktif, terutama di bawah usia 25 tahun. Ini sangat menguatirkan karena menyangkut masa depan bangsa”.
Ia menambahkan bahwa penularan HIV mayoritas terjadi melalui hubungan seksual berisiko, baik antar lawan jenis maupun sesama jenis. “Penyakit ini belum ada obatnya. WHO menyebut satu orang positif HIV bisa jadi menyembunyikan potensi hingga 100 orang lainnya juga terinfeksi. Ini fenomena gunung es yang harus diantisipasi bersama.”
(Acep Mulyana)
Comment