BOGOR, CEKLISSATU.COM - Revitalisasi Terminal Bubulak Tahap III kembali menjadi sorotan dalam pembahasan KUA-PPAS 2027. 

DPRD Kota Bogor mengingatkan Pemkot Bogor agar pembangunan Terminal Bubulak tidak hanya berfokus pada fisik bangunan, tetapi juga disertai penataan sistem transportasi yang terintegrasi. 

Anggota Komisi lll DPRD Kota Bogor, Angga Alan Surawijaya, mengkritisi rencana Pemerintah Kota Bogor yang kembali mengalokasikan anggaran untuk Revitalisasi Terminal Bubulak Tahap III dalam Rancangan KUA-PPAS Tahun Anggaran 2027. 

Baca Juga: Revitalisasi Terminal Bubulak Berlanjut, Pemkot Bogor Siapkan Anggaran Rp6,3 M Fokus Pembangunan Ini

Menurutnya, penambahan anggaran pembangunan fisik tidak boleh terus dilakukan tanpa disertai kejelasan arah kebijakan penataan transportasi di kawasan Bubulak.

"Yang menjadi pertanyaan adalah, setelah terminalnya selesai dibangun, seperti apa konsep operasional dan penataan transportasinya? Jangan sampai kita hanya memiliki bangunan yang lebih bagus, tetapi persoalan kemacetan, tumpang tindih trayek, dan ketidakteraturan angkutan tetap terjadi," ujar Angga, Senin (3/8/2026).

Menurut Angga, kawasan Bubulak merupakan kawasan strategis yang memiliki karakteristik berbeda dengan terminal lain di Kota Bogor.

Baca Juga: Wali Kota Bogor Tinjau Perbaikan Terminal Bubulak, Koridor  5 dan 6 Biskita akan Dibuka pada Tanggal 5 Oktober

Lokasi tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Bogor, sementara di sisi lain Pemerintah Kabupaten Bogor juga tengah mengembangkan Terminal Laladon sebagai simpul transportasi

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tumpang tindih fungsi dan pelayanan apabila tidak direncanakan secara terpadu.

"Selama bertahun-tahun Bubulak menjadi kawasan yang memiliki tantangan koordinasi transportasi antara Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Banyak angkutan yang melayani dua wilayah administratif, sehingga kebijakan satu daerah akan berdampak pada daerah lainnya. Karena itu, revitalisasi terminal harus diiringi dengan kesepakatan lintas daerah mengenai pola pelayanan transportasi," jelasnya.

Baca Juga: Revitalisasi Terminal Bubulak Butuh Rp180 Miliar, Dishub: Kita Upayakan Kerjasama Investasi

Angga menilai momentum penyusunan KUA-PPAS 2027 seharusnya dimanfaatkan untuk menyusun masterplan transportasi kawasan Bubulak–Laladon, bukan hanya mengalokasikan anggaran pembangunan fisik terminal.

Ia menyampaikan beberapa masukan kepada Pemerintah Kota Bogor:

1. Membangun koordinasi formal dengan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk menyusun pembagian fungsi antara Terminal Bubulak dan Terminal Laladon agar keduanya saling melengkapi.

2. Menata kembali trayek angkutan kota dan angkutan perbatasan berdasarkan kebutuhan mobilitas masyarakat saat ini.

3. Mengintegrasikan Terminal Bubulak dengan layanan BisKita, angkutan pengumpan (feeder), dan angkutan antarkota sehingga menjadi simpul perpindahan moda yang efektif.

4. Menata kawasan sekitar terminal, termasuk titik naik turun penumpang, parkir, area UMKM, jalur pejalan kaki, dan rekayasa lalu lintas menuju Bubulak dan Laladon.

5. Mendorong pembentukan forum koordinasi transportasi Bogor Raya yang melibatkan Pemerintah Kota Bogor, Pemerintah Kabupaten Bogor, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Perhubungan.

Baca Juga: Pastikan Armada Transportasi AKAP Laik Jalan, Dishub Kota Bogor Lakukan Ramp Check di Terminal Bubulak

"Kalau Terminal Bubulak dan Terminal Laladon dirancang sebagai satu sistem transportasi yang saling mendukung, masyarakat akan memperoleh layanan yang jauh lebih baik. Namun jika masing-masing berjalan sendiri-sendiri, potensi tumpang tindih trayek, kemacetan, dan pemborosan anggaran akan terus berulang," tegas Angga.

Ia berharap pembahasan KUA-PPAS 2027 tidak hanya berfokus pada besaran anggaran revitalisasi Terminal Bubulak Tahap III, tetapi juga memastikan adanya peta jalan penataan transportasi kawasan barat Kota Bogor yang terintegrasi dengan Kabupaten Bogor.

"Keberhasilan revitalisasi terminal bukan diukur dari megahnya bangunan, melainkan dari kemampuannya mengurangi kemacetan, meningkatkan penggunaan angkutan umum, dan memberikan pelayanan transportasi yang lebih baik bagi masyarakat," tutup Angga.