JAKARTA, CEKLISSATU - Kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) terus menjadi perhatian. Tidak karena eksperimennya, tetapi juga masalah pembengkakan nilai biaya proyek yang terus membengkak.

Hingga kini, pembengkakan proyek KCJB yang ditargetkan rampung dan mulai beroperasi tahun depan, capai Rp21,4 triliun.

Data tersebut dibeberkan Direktur Utama PT KAI (Persero), Didiek Hartantyo, atas 2 asersi Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 

"Sehingga dengan adanya asersi satu dan asersi dua ini total nilai cost overrun ini adalah USD 1,449 miliar," ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI dengan KAI, Kamis 10 November 2022.

Baca Juga : Petugas Stasiun Gambir dan Pasar Senen Layani Penumpang Pakai Kostum Pahlawan

Jumlah pembengkakan biaya atau cost over run KCJB telah didapatkan sebesar USD 1,449 miliar atau setara dengan Rp21,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.800). Besaran ini diluar dari biaya pokok pembangunan KCJB sebesar USD 6,07 miliar.

Angka ini keluar setelah BPKP melakukan 2 kali audit. Pada reviu pertama, BPKP menemukan kelebihan biaya sekitar USD 1,176 miliar dan reviu kedua menunjukkan angka USD 273 juta.

Didiek mengatakan, kalau penambalan kelebihan biaya ini akan dilakukan satu skema yang sudah disepakati.

25 persen dari total utang akan dibayar patungan antara konsorsium BUMN Indonesia (PT PSBI) dan konsorsium China. Sementara, 75 persen sisanya akan ditanggung lewat utang ke China Development Bank.

Menurut perhitungan, 25 persen dari biaya pembengkakan proyek KCJB tercatat sebesar Rp5.363 triliun. Porsi beban Indonesia terhadap patungan itu adalah 60 persen atau sekitar Rp3,218 triliun.

Sementara, 40 persen sisanya atau Rp2,145 triliun akan ditanggung oleh konsorsium China. Sedangkan, 75 persen atau senilai Rp16,09 triliun akan dipenuhi melalui pinjaman.

"Untuk porsi ekuitas Indonesia yang nilainya totalnya adalah sebesar Rp3,2 triliun maka ini diusulkan bersumber dari PMN (Penyertaan Modal Negara) kepada PT KAI sebagai leading consortium," tutupnya.