BOGOR, CEKLISSATU - Jagat maya sempat dihebohkan dengan publikasi masif di sejumlah media mainstream tentang pencalonan diri Sendi Fardiyansyah di Pemilihan Wali Kota (Pilwakot) Bogor pada Pilkada 2024. Bukannya mendapat apresiasi, ia justru banyak dibully netizen. 

Ya, Sendi Fardiyansyah merupakan Aparat Sipil Negara (ASN) yang ditugaskan mendampingi Iriana Jokowi selaku istri sang Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).

Sendi dengan bangganya berfoto bersama orang nomor satu di Republik Indonesia, untuk meminta restu maju di Pilkada Kota Bogor 2024, November mendatang. 

Baca Juga : 143 Kepala Keluarga di Jatim Terdampak Gempa Tuban, Ini Rinciannya

Namun, respon publik justeru sebaliknya. Sendi dibully para netizen yang kebanyakan menganggapnya haus jabatan. 

Menurut Pengamat politik dan Kebijakan Publik, Yusfitriadi menyebut bahwa munculnya nama Sendi dalam dialektika menjelang Pilkada di Kota Bogor, tidak lebih dari memanfaatkan dinamika politik di tingkat nasional. 

"Jokowi disebut-sebut sebagai king maker dalam pertarungan pemilihan presiden dan wakil presiden, sampai Prabowo-Gibran menang pertarungan. Posisi sendi merupakan sekretaris ibu Iriana yang merupakan istri Jokowi," ucapnya kepada awak media pada Sabtu, 23 Maret 2024.

Namun, lanjut Yusfitriadi, Sendi butuh rekomendasi partai untuk dapat ikut kontestasi politik. Salah satunya dari Partai Gerindra, yang dikategorikan berasal dari kekuatan nasional.

Sementara Partai Gerindra Kota Bogor, dalam plenonya sudah terlebih dahulu mengusung Jenal Mutaqin yang saat ini duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Bogor. 

Menurut Yusfitriadi, siapapun tidak akan berpengaruh dalam konteks administratif untuk kepentingan pilkada, termasuk rekomendasi presiden. 

"Kecuali presiden bisa memastikan partai koalisi yang memenangkan Prabowo-Gibran akan mengeluarkan rekomendasi untuk Sendi. Karena Sendi tidak mempunyai rekam jejak berproses di politik, baik lokal maupun nasional di partai manapun," ungkapnya.

Dengan kata lain, sambung Yusfitriadi, Sendi akan mendapat rekomendasi dari partai politik tergantung perkembangan dan dinamika politik di tingak nasional. 

"Besar kemungkinan Sendi dan Jenal Mutaqin akan memperebutkan rekomendasi dari partai yang sama yaitu Gerindra," jelasnya.

Kendati demikian, Yusfitriadi menilai bahwa Jenal Mutaqin lebih berpeluang diusung, karena sudah jelas kader partai Gerindra, yang secara politik meniti karier dan berdialektika politik di Partai Gerindra

"Sangat wajar ketika pleno DPC Gerindra Kota Bogor hanya merekomendasikan satu nama untuk menjadi kandidat calon wali kota dari Partai Gerindra. Sebagai konsekwensi logis dari salah satu fungsi dan peran partai politik adalah perkaderan politik," tegasnya.

Sehingga konsekuensi logis itulah yang harus menjadi prinsip semua partai politik ketika keberlangsungan partai politik akan jalan dan menjadi kuat. 

"Justru akan ambigu ketika pada momentum elektoral termasuk pilkada partai politik mengusung non kader politik, itu sama saja menegasikan peran partai politik sendiri hanya untuk meraih kekuasaan," imbuhnya.

Lebih lanjut, Yusfitriadi mengaku sepakat Gerindra mengusulkan kadernya siapapun yang disepakati oleh DPC Gerindra Kota Bogor untuk diusulkan mendapat rekomendasi dari DPP Partai Gerinda untuk menjadi calon Walikota Bogor. 

"Namun bagaimanapun kuatnya aspirasi struktur partai di tingkat lokal, dalam konteks partai gerindra pada akhirnya DPP Partai gerindra akan merekomendasikan siapa yang dikehendaki oleh Prabowo," katanya.