Ia juga menambahkan bahwa saat ini terdapat banyak daerah yang telah berhasil menerapkan praktik baik (best practices) dalam bentuk layanan digital berbasis data, integrasi sistem informasi antarinstansi, serta penguatan partisipasi masyarakat melalui kanal daring. Namun, tantangan terbesar masih terletak pada kesiapan sumber daya manusia, keberlanjutan inovasi, dan regulasi yang kadang belum adaptif.
“Inovasi harus menjadi budaya, bukan sekadar proyek. Karena hanya dengan budaya inovatif-lah, birokrasi daerah bisa bertahan menghadapi dinamika zaman dan tetap relevan di tengah ekspektasi publik yang terus berubah,” tegasnya di hadapan mahasiswa.
Baca Juga: Mapala Bakti Bersama Mapala Unida Reforestasi Puncak
Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Diktisaintek Berdampak”, dan bertujuan menjembatani dunia akademik dengan dunia kerja. Dengan menghadirkan praktisi sebagai narasumber, mahasiswa diharapkan mendapatkan perspektif empirik dan inspirasi untuk mengembangkan kapasitas diri sebagai calon birokrat atau analis kebijakan yang visioner.
Diskusi berjalan interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa seputar digitalisasi birokrasi, pengembangan SDM daerah, serta peluang inovasi pelayanan publik berbasis teknologi.
Comment