Sementara pada level meso, peran pengelola lapas, ketersediaan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), serta budaya penjara menjadi faktor kunci yang dapat meredam atau justru memicu kerusuhan. 

Baca Juga: Mayoritas Atlet PPOPM Siap Perkuat Kabupaten Bogor di Porprov Jabar 2026

Kemudian, di level mikro, pencegahan difokuskan pada intervensi individual dan hubungan antarwarga binaan, seperti program pendampingan, mediasi konflik, dan konseling psikososial.
 
Dalam aspek penanganan kerusuhan, Sofyan menekankan pentingnya pendekatan yang bersifat dinamis. 

Penanganan tidak hanya berfokus pada pengendalian situasi, tetapi juga harus menyentuh akar permasalahan agar kerusuhan tidak berulang atau berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Baca Juga: Mahasiswa BEM FT Undip Bawa Teknologi Tepat Guna untuk Petani Gula Aren Desa Sriwulan
 
“Tahapan akhir yang sering terabaikan adalah rehabilitasi pasca-kerusuhan. Rehabilitasi tidak hanya menyangkut perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pemulihan medis, psikologis, dan sosial bagi petugas maupun narapidana,” terangnya.
 
Sofyan juga merekomendasikan modernisasi sistem keamanan melalui pemanfaatan teknologi, seperti kamera pengawas (CCTV) terintegrasi, akses biometrik, dan sistem komunikasi digital. 

Penggunaan teknologi itu diharapkan tidak menciptakan lingkungan yang represif, melainkan meningkatkan efisiensi pengawasan agar petugas dapat lebih fokus pada pembinaan.