Adapun 1.516 mahasiswa baru yang mengikuti PKKMB 2026 berasal dari tujuh fakultas dan Sekolah Vokasi, dengan rincian Fakultas Hukum sebanyak 131 mahasiswa, Fakultas Ekonomi dan Bisnis 416 mahasiswa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 152 mahasiswa, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya 321 mahasiswa, Fakultas Teknik 254 mahasiswa, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 177 mahasiswa, serta Sekolah Vokasi 65 mahasiswa.
Singgih menjelaskan, PKKMB bertujuan memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru agar dapat lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan kampus dan sistem pendidikan di perguruan tinggi.
Selain itu, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenalkan sistem akademik, budaya ilmiah, organisasi kemahasiswaan, sekaligus menanamkan nilai karakter silih asih, silih asah, dan silih asuh kepada mahasiswa baru Unpak.
Rangkaian PKKMB yang berlangsung selama dua hari tersebut sekaligus menjadi langkah awal bagi 1.516 mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat kehidupan akademik dan kemahasiswaan di Unpak.
Dengan materi yang disesuaikan dengan tantangan perkembangan zaman, kegiatan ini mengarahkan mahasiswa agar tidak hanya siap mengikuti proses pembelajaran, tetapi juga mampu menjalani kehidupan kampus dengan menjunjung etika, tanggung jawab, dan karakter.
Rektor Unpak Prof. Didik Notosudjono dalam sambutannya menilai tema PKKMB tahun ini sangat relevan dengan tantangan zaman.
Ia mengatakan perkembangan AI telah memasuki hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, penelitian, dunia kerja, industri, pemerintahan, ekonomi kreatif, kesehatan, hingga pola komunikasi dan pengambilan keputusan.
Menurut Didik, perkembangan teknologi memberikan peluang besar, tetapi harus diimbangi dengan manusia yang memiliki etika dan karakter.
“Jangan hanya menjadi generasi yang mampu menggunakan teknologi. Jadilah generasi yang mampu mengendalikan, mengarahkan, dan menggunakan teknologi untuk kemanusiaan dan kemajuan bangsa,” pesan Prof. Didik kepada mahasiswa baru.
Ia menegaskan bahwa AI boleh semakin cerdas, tetapi manusia tidak boleh kehilangan nurani. Kemajuan teknologi juga tidak boleh membuat karakter tertinggal.
“Informasi boleh semakin cepat, tetapi kebenaran, etika, dan tanggung jawab harus tetap menjadi pedoman,” katanya.
Prof. Didik juga mengingatkan bahwa makna bela negara di abad ke-21 tidak selalu berkaitan dengan mengangkat senjata. Di era AI, bela negara juga diwujudkan melalui kecakapan digital dan kecerdasan moral.
Mahasiswa, lanjut dia, harus mampu membedakan informasi dan disinformasi, inovasi dan penyalahgunaan teknologi, serta kebebasan berekspresi dan tindakan yang merugikan orang lain.
Ia mendorong mahasiswa menggunakan AI untuk membantu proses berpikir, bukan menggantikannya. Teknologi juga harus dimanfaatkan untuk berkarya, bukan melakukan kecurangan akademik.
“Gunakan teknologi untuk membangun peradaban, bukan untuk menyebarkan kebencian. Dan gunakan kecerdasan digital untuk memperkuat persatuan, bukan untuk memperbesar perpecahan,” tegasnya.
Di hadapan mahasiswa baru, Prof. Didik menegaskan bahwa Unpak tidak hanya ingin mencetak mahasiswa dengan indeks prestasi akademik tinggi, tetapi juga manusia yang unggul dalam ilmu, mandiri dalam berpikir dan bertindak, serta berkarakter dalam kehidupan.
Hal tersebut sejalan dengan visi Unpak, yakni “Unggul, Mandiri dan Berkarakter. Menurut Prof. Didik, unggul berarti mahasiswa memiliki kompetensi, wawasan, kreativitas, daya saing, serta kemampuan menghasilkan karya terbaik.
Mandiri berarti mampu berpikir kritis, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, tidak mudah bergantung kepada orang lain, dan berani menghadapi tantangan.
Handy Purnama
Comment