Oland PH Sibarani yang lahir di Kampung Sirpangtolu, Desa Sitangkola, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Tapanuli Utara (kini Kabupaten Toba), pada 1 Juni 1964 merupakan anak seorang sopir truk, bus dan angkot yang sudah berjuang sendiri untuk menjalani kehidupan sejak anak-anak. 

Baca Juga: Gelombang Baru Wartawan Bekasi! Berkas 60 Peserta OKK Diserahkan ke PWI Jabar

Sejak kelas 3 SD Oland tinggal bersama kakek dan neneknya di Deli Serdang. Ia sekolah sambil menjadi penggembala kerbau. Ketika Sekolah SPG dia menjadi kenek angkutan kota, dan kabur dari rumah karena berselisih paham dengan ayahnya. 

Oland pernah bekerja di pabrik pengolahan getah karet, di pabrik pengepresan kayu, menjadi penarik becak saat kuliah, dan bergabung dengan Ormas IPK Pimpinan tokoh pemuda Medan, Olo Panggabean. 

IMG_20250623_113128.webp
SERAHKAN BUKU: Penulis dan wartawan anggota PWI Jaya, Herman Wijaya, yang menulis biografi dari wartawan senior dan pengusaha Oland PH Sibarani, menyerahkan buku yang ditulisnya kepada sang pengusaha.

Setelah menjadi Sarjana Pendidikan ia sempat bekerja di proyek bangunan, menjadi guru, lalu menjadi salesman asuransi dan minyak pelumas setelah merantau. 

Tetapi karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, ia lalu berangkat ke Purwakarta, kemudian menjadi sopir tembak angkutan kota dan penambal ban untuk bertahan hidup, lalu menjadi wartawan. 

Baca Juga: Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah: PWI Kota Bogor Sembelih Delapan Kambing, Dibagikan ke Warga yang Membutuhkan

Kariernya sebagai wartawan meningkat sejak ia pindah ke Karawang, sampai ia terpilih menjadi Ketua PWI Karawang selama 2 periode, lalu terpilih menjadi Ketua Dewan Kehormatan PWI Jawa Barat. Pada saat yang sama Oland juga sukses sebagai pengusaha jasa pengangkutan limbah B3. 

"Ada drama dalam setiap fase kehidupan Oland. Itulah yang membuat saya tertarik menuliskan biografinya," kata Herman, yang juga pengurus seksi di PWI Jaya, usai penyerahan buku. 

Di tempat yang sama, Oland mengaku terharu ada yang bersedia menuliskan kisah hidupnya. 

"Saya ini kan bukan siapa-siapa. Masih debulah. Saya merasa tersanjung ada yang mau menuliskan biografi saya. Dengan buku ini, kan saya tidak perlu lagi menceritakan siapa diri saya, kepada anak dan cucu kelak, atau siapa saja yang ingin tahu tentang diri saya," kata Oland. 

Oland berharap kisah hidupnya bisa menjadi bahan perenungan bagi yang membacanya, terutama generasi muda yang ingin mengarungi kehidupan.