“Harapannya ke depan tradisi ini dapat terus dijaga. Ini sebagai bentuk komitmen warga Kota Bogor untuk semakin mencintai kotanya,” ucapnya.


Dedie juga menyampaikan bahwa perayaan Cap Go Meh yang bertepatan dengan Ramadan diperkirakan masih akan terjadi dalam dua tahun ke depan.


“CGM ini akan berlangsung tiga kali di bulan Ramadan. Kemarin juga kami buka dengan santunan dan buka puasa bersama anak yatim. Insyaallah dua tahun ke depan pun akan berlangsung dalam suasana Ramadan dan Imlek atau Cap Go Meh yang bersamaan,” katanya.


Menurutnya, momentum tersebut menjadi keunikan tersendiri dan memperkuat identitas Kota Bogor sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi.

Baca Juga: CGM Bogor Street Festival 2026 Dibuka Dengan Buka Puasa Bersama Ratusan Anak Yatim di Vihara Dhanagun Bogor


“Ini bentuk keberagaman yang unik. Nuansa Ramadan juga terasa, ada war takjil selama tiga hari dan masyarakat sangat antusias. Ini hal yang baik untuk mengukuhkan identitas Bogor sebagai kota yang toleran, beragam, dan saling menghormati,” tuturnya.


Selain aspek budaya dan sosial, CGM juga berdampak positif terhadap perekonomian daerah. Tahun ini, CGM masuk dalam Kalender Event Nasional dan mendapat dukungan langsung dari Kementerian Pariwisata.


“CGM sekarang masuk dalam Kalender Event Nasional dan didukung langsung oleh Menteri Pariwisata. Okupansi hotel meningkat, UMKM bergeliat. Ada sekitar 120 UMKM yang dilibatkan secara gratis. Bahkan saya mendengar ada stan yang omzet hariannya di atas Rp20 juta. Ini luar biasa, bukan hanya baik dari sisi budaya dan tradisi, tetapi juga dari sisi ekonomi,” paparnya