JAKARTA, CEKLISSATU.COM - Setelah banjir besar melanda Bali, Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq mendorong langkah reforestasi dan revegetasi DAS sebagai solusi jangka panjang.
Hanif Faisol menekankan pentingnya menghentikan konversi lahan yang tidak mendesak demi menjaga daya serap air dan ketahanan ekosistem.
Ia mengungkap temuan akan rendahnya tutupan hutam di sepanjang DAS di Bali.
Baca Juga: Banjir Besar Terjang Bali: 14 Jiwa Meninggal Dunia, Ratusan Warga Mengungsi
Hal itu, tambahnya, karena adanya alih fungsi lahan yang terjadi sejak 2015 lalu.
"Hingga 2024, alih fungsi lahan dari hutan menjadi non-hutan seluas 459 hektare," ujarnya usai rapat koordinasi banjir besar di Denpasar, Sabtu (13/9/2025).
Menurut Hanif Faisol, 459 hektar bagi wilayah lain mungkin kecil, tetapi untuk Bali itu sangat besar.
"Terbukti dari DAS Ayung yang terdapat aliran Tukad Badung, Tukad Mati dan Tukad Singapadu. Dari total 49.500 hektare kini hanya tertutupi pohon sekitar 1.500 hektare atau sekitar 3 persen. Sementara semestinya DAS bisa menahan sungai di bawahnya dengan tutupan hutan setidaknya 30 persen," bebernya.
Lahan hutan tersebut beralih menjadi pertanian terbuka, pertanian campuran, dan paling banyak permukiman yang terjadi sejak sebelum pemerintahan Wayan Koster.
"Perubahan lanskap Bali sudah terjadi sejak lama dan bukan hanya di masa pemerintahan tertentu. Karakter wilayahnya memang unik, sehingga dinamika alih fungsi lahan menjadi bagian dari tantangan yang terus berlangsung," ujar Hanif Faisol.
Baca Juga: Pasca Banjir, Pemerintah dan Warga Lakukan Pengerukan Sungai Cibeteung di Rancabungur
Merespons banjir besar yang melanda, Kementerian Lingkungan Hidup bersama Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen memulihkan kondisi DAS, agar lebih mampu menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi di masa mendatang.
Hanif mengingatkan bencana serupa mungkin tidak akan terjadi sekali mengingat ada perubahan iklim secara global, sehingga Bali harus siap ke depan.
Ia mendorong upaya penghijauan kembali yang tengah disiapkan oleh Pemprov Bali, termasuk evaluasi kondisi sedimentasi di sepanjang daerah aliran sungai sebagai bagian dari strategi pemulihan lingkungan.
Baca Juga: Cegah Pencemaran Lingkungan, DLH DKI Jakarta Lakukan Ini untuk Tangani Busa di Kanal Banjir Timur
Ia menegaskan pentingnya pengawasan menyeluruh terhadap alih fungsi lahan, terutama yang tidak mendesak dan berisiko mengganggu daya serap air.
"Pembangunan seperti vila dan penginapan di kawasan rawan dinilai perlu dikendalikan, mengingat kondisi alam kini semakin rentan terhadap hujan ekstrem," ujarnya.
Hanif Faisol menjelaskan bahwa hujan ekstrem dengan intensitas mencapai 245,75 milimeter dalam satu hari mengguyur Bali pada Selasa hingga Rabu dini hari.
Baca Juga: Bupati Bogor Rudy Susmanto Tandatangani MoU Penanganan Banjir bersama Gubernur Jabar, BBWS dan PSDA
Volume air sebesar itu tidak sebanding dengan kapasitas serapan DAS yang saat ini minim tutupan hutan.
Gubernur Bali, Wayan Koster menyatakan, kesiapan pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah pencegahan ke depan, termasuk menelusuri kondisi sungai dari hulu hingga hilir.
Ia menyoroti pentingnya menjaga tutupan hutan dan area resapan air guna mengurangi risiko banjir saat hujan deras.
"Pemerintah Provinsi Bali menjadikan peristiwa banjir besar sebagai momentum untuk memperkuat komitmen dalam menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan yang lebih aman," katanya.
Comment