JAKARTA,CEKLISSATU - Senegal pulangkan 37 migran yang berhasil diselamatkan di lepas pantai Tanjung Verde setelah perahu mereka terdampar di Samudra Atlantik selama berminggu-minggu, Senin malam (21/08/2023).

Para korban yang berasal terutama dari desa nelayan Fass Boye mendarat pada Senin malam. Beberapa di antaranya keluar dari pesawat dengan tandu.

Mereka adalah di antara 101 penumpang yang berangkat dari Senegal dengan perahu pada 10 Juli - salah satu dari banyak yang mencoba menyeberangi laut berbahaya dari pesisir Afrika Barat ke Kepulauan Canaria, biasanya digunakan oleh migran Afrika yang berusaha mencapai Spanyol.

Otoritas mengatur pemulangan mereka dari pulau Sal, Tanjung Verde, di mana seorang dokter Senegal yang membantu menerjemahkan antara korban selamat dan otoritas menjelaskan bahwa perahu kehabisan bahan bakar. Perahu itu mengapung di laut sampai sebuah kapal nelayan Spanyol menemukan mereka pada 16 Agustus.

"Ada yang mengatakan berlangsung selama delapan hari, yang lain 12 hari. Persediaan makanan mereka habis dengan sangat cepat," kata dokter Medoune Ndiaye kepada wartawan di Sal sebelum naik pesawat.

Menteri urusan luar negeri Senegal, Anette Seck, mengatakan 38 orang diselamatkan dari total 101 penumpang, satu di antaranya belum dalam kondisi untuk bepergian dengan hanya tujuh mayat yang berhasil ditemukan sejauh ini.

Kerusuhan terjadi di Fass Boye setelah berita menyebar bahwa perahu telah ditemukan saat teman dan kerabat yang berduka meratapi orang yang dicintai.

"Ini adalah kehendak Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa," kata Abdou Karim Sarr, yang kehilangan anaknya di perahu.

Ribuan migran berani menghadapi ratusan mil laut yang memisahkan Afrika dan Eropa setiap tahun dalam  keputus asaan akan kehidupan dan peluang kerja. Musim panas adalah periode tersibuk untuk perjalanan ini.

Setidaknya 559 orang meninggal dalam upaya mencapai Kepulauan Canaria pada 2022, sedangkan 126 orang meninggal atau hilang dalam rute yang sama dalam enam bulan pertama tahun ini dengan 15 kecelakaan kapal tercatat, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi.