JAKARTA, CEKLISSATU - Perusahaan Listrik Tokyo Jepang, yang dikenal sebagai TEPCO, memulai pelepasan air radioaktif yang telah diolah dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima ke Samudra Pasifik pada Kamis sore.

Para eksekutif perusahaan tersebut mengatakan bahwa mereka akan segera menghentikan pelepasan air yang telah diolah ke Samudra Pasifik jika terjadi suatu masalah. 

Air mulai mengalir sekitar pukul 13.00 waktu setempat dengan rencana awal untuk melepaskan air secara berkelanjutan selama periode 17 hari.

Keputusan kontroversial ini, yang telah menimbulkan protes di Jepang, Korea Selatan, dan tempat lain, mendorong pejabat China untuk mengeluarkan pernyataan tajam pada Kamis, dengan menyatakan bahwa Beijing menentang dan mengutuk dengan keras tindakan tersebut. 

Tindakan Jepang dianggap egois dan tidak bertanggung jawab karena samudera milik seluruh umat manusia.

"Walaupun hanya demi kepentingan egois Jepang, tindakan ini bisa menyebabkan bencana sekunder buatan manusia bagi penduduk lokal dan seluruh dunia jika Jepang memilih untuk membuang air ke laut," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin.

Pejabat dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) diketahui berada di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi ketika air mulai mengalir ke laut, demikian diumumkan oleh badan tersebut. Pejabat badan tersebut sebelumnya telah memberikan persetujuan mereka terhadap rencana Jepang.

"Para ahli IAEA berada di lokasi untuk menjadi mata-mata komunitas internasional dan memastikan bahwa pelepasan ini dilakukan sesuai rencana dan konsisten dengan standar keamanan IAEA," ungkap Direktur Jenderal Rafael Mariano Grossi, Kamis (24/8).

Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida dan para ahli internasional telah memastikan bahwa air yang telah diolah memenuhi standar keamanan.

"TEPCO akan "di bawah bimbingan terus menerus dari Pemerintah Jepang, menangani masalah ini dengan kesadaran kuat bahwa kami bertanggung jawab atas 'mencegah kerusakan reputasi' dan 'tidak mengkhianati kepercayaan masyarakat Fukushima dan rakyat Jepang' selama periode pelepasan," demikian diungkapkan perusahaan dalam pernyataannya, Rabu (23/8).