BOGOR, CEKLISSATU – Institut Pertanian Bogor (IPB) memperkuat kemitraan dengan United States Dairy Export Council (USDEC) untuk mendukung peningkatan produksi susu sapi perah di Indonesia. Kerja sama yang juga melibatkan New Mexico Department of Agriculture (NMDA) ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas susu nasional yang selama ini hanya mampu memenuhi 20 persen kebutuhan domestik, sedangkan 80 persen sisanya masih bergantung pada impor.  

Rektor IPB Prof Arif Satria menyatakan bahwa kolaborasi ini mencakup pelatihan, pendampingan, dan edukasi bagi peternak sapi perah, khususnya peternak menengah. "Rata-rata produksi susu sapi perah di Indonesia hanya 12,5 liter per ekor per hari. Dengan pendampingan yang intensif, kami berharap bisa meningkatkannya menjadi 15 hingga 20 liter per hari," ujar Arif.  

Mayoritas sapi perah di Indonesia dikelola oleh peternak rakyat dengan kepemilikan 2 hingga 5 ekor sapi. Tantangan terbesar adalah usia peternak yang rata-rata mencapai 56 tahun tanpa latar belakang pendidikan di bidang peternakan. "Banyak dari mereka hanya melanjutkan usaha keluarga tanpa pemahaman mendalam tentang teknik peningkatan produktivitas sapi perah," tambah Arif.  

Baca Juga : Akhir 2025 Jakarta Bakal Miliki 3 JPO Unik, Tak Hanya Fungsional Tapi Juga Cerminkan Identitas Lokal

Tim Pakar Bidang Susu Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Susu, Prof. Epi Taufik mengatakan, bahwa pendampingan teknis yang sistematis sangat dibutuhkan untuk mendukung modernisasi produksi susu. "Kebutuhan pelatihan dan teknologi berbasis data menjadi krusial dalam pengelolaan peternakan sapi perah yang lebih efisien," katanya.  

Ferry Kusmawan Ketua Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia Jawa Barat menyambut baik program ini. "Kami memerlukan pembaruan keterampilan dan pengetahuan. Kerja sama dengan AS akan memberikan motivasi dan sumber daya baru bagi peternak seperti saya untuk meningkatkan produksi," ujarnya.

Langkah IPB ini mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, di mana susu menjadi salah satu komponen penting. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan impor susu.  

(Febrian Batara Aditya Rahman)