“Ini banjir paling parah sepanjang saya tinggal di sini, sebelumnya paling tinggi cuma semata kaki dan langsung surut. Tapi sekarang? Udah berjam-jam nggak surut gara-gara gorong-gorong ditutup semen sama pihak Sekolah Amalia,” ucapnya saat diwawancarai Ceklissatu.com.

Ia mengatakan pengecoran gorong-gorong dilakukan sebulan lalu, tanpa musyawarah dengan warga.

IMG-20250809-WA0083.webp

“Nggak ada sosialisasi sama sekali, saya dan tetangga nggak pernah diajak bicara, tiba-tiba saja ditutup,saya bahkan sudah khawatir bakal banjir, dan ternyata benar,” ujarnya geram.

Ia mendesak pihak sekolah segera memperbaiki jalur air dan memberikan ganti rugi.

“Perbaiki lagi alirannya dan ganti rugi kerugian warga, barang di rumah banyak yang rusak gara-gara air ini,” kata dia.

Nada serupa disampaikan Saefulloh (52), warga lainnya yang rumahnya untuk pertama kali kemasukan air.

“Iya ini parah banget, sebelumnya mah nggak pernah sampai banjir segini, titik masalahnya jelas dari gorong-gorong yang dicor, pihak sekolah nggak pernah musyawarah sama warga, paling cuma ngobrol sama RT/RW,” ungkapnya.

Bagi warga Sarimulya, banjir kali ini menjadi bukti nyata bahwa penutupan saluran air tanpa kajian dan persetujuan warga adalah tindakan ceroboh yang merugikan, mereka menuntut pihak Sekolah Amalia segera bertanggung jawab sebelum bencana serupa terulang.