KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU.COM – Memasuki bulan Desember yang menjadi awal puncak musim hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor meningkatkan langkah kesiapsiagaan.
Tingginya intensitas bencana hidrometeorologi sepanjang tahun 2025 menjadi dasar penguatan mitigasi di seluruh wilayah, terutama di 24 kecamatan yang tercatat sebagai daerah rawan bencana.
Berdasarkan data resmi BPBD, periode Januari hingga November 2025, Kabupaten Bogor mengalami 1.652 kejadian bencana.
Termasuk angin kencang, tanah longsor, banjir, Pergerakan tanah, gempa bumi, Kekeringan, kebakaran hutan dan lain-lain.
Sementara wilayah rawan bencana tersebar di 24 kecamatan, meliputi, Babakan Madang, Cariu, Cigudeg, Ciseeng, Citeureup, Cijeruk, Cigombong, Cisarua, Ciomas, Gunung Putri, Jasinga, Jonggol, Klapanunggal, Leuwiliang, Megamendung, Nanggung, Rancabungur, Rumpin, Sukajaya, Sukamakmur, Tanjungsari, Tenjo, dan Tenjolaya.
Staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bogor, Irwan Tisna, menjelaskan bahwa memasuki musim penghujan, potensi bencana hidrometeorologi perlu diwaspadai, terutama longsor, banjir, dan angin kencang.
Irwan menyebut BPBD memperkuat kesiapsiagaan personel, terutama tim TRC yang dituntut sigap dalam merespon cepat setiap kejadian.
“Jadi teman teman biasanya, kita biasa standby jadi harus lebih sigap untuk antisipasinya seperti itu,” kata Irwan saat ditemui Ceklissatu.com di kantornya, Rabu (3/12/2025).
Selain itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat hujan lebat, terutama terkait potensi angin kencang.
Baca Juga: Pemkab Bogor Kirim Tim Medis untuk Misi Kemanusiaan Bantu Korban Bencana di Aceh, Sumbar dan Sumut
“Biasanya tidak jauh daripada ketika hujan itu pasti disertai dengan angin kencang. Berarti penguatan antisipasinya kan jangan ada di luar rumah seperti itu apalagi ketika berkendara angin kencang berarti harus menepi dan sebagainya,” jelas dia.
Untuk daerah-daerah rawan bencana, BPBD mengandalkan penguatan mitigasi berbasis masyarakat melalui Desa Tangguh Bencana (Destana).
Irwan menyebut bahwa sudah ada sekitar 140 Desa Tangguh Bencana yang terbentuk di Kabupaten Bogor.
“Salah satu langkah mitigasi adalah memberikan edukasi kepada tadi relawan-relawan, Destana, kepada masyarakat, sosialisasi bagaimana menghadapi ancaman bencana,” terangnya.
Mitigasi juga, kata Irwan, difokuskan pada pemahaman masyarakat terhadap potensi dan cara penyelamatan diri.
Melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), BPBD memberikan edukasi kesiapsiagaan kepada siswa SD, SMP, hingga SMA/SMK agar memahami langkah-langkah mitigasi sejak dini.
Baca Juga: DIV TIK Polri, Sediakan WIFI Starlink Gratis Untuk Komunikasi Warga Terdampak di lokasi Bencana
Menurutnya, masyarakat cenderung abai selama bencana belum terjadi.
“Cuman mungkin secara pemahaman masyarakat itu kurang ngerti karena memang belum terjadi, jadi agak disepelekan,” kata dia.
Selain itu, dalam upaya memulihkan daya serap tanah dan mencegah bencana jangka panjang, BPBD bersama BNPB dan berbagai elemen masyarakat melakukan rehabilitasi lingkungan melalui penanaman pohon.
“Kita bersama BNPB melakukan penanaman pohon, hampir 100 ribu pohon itu semuanya di Das Ciliwung,” ujarnya.
Sementara itu, himbauan untuk Masyarakat Menghadapi cuaca ekstrem, Irwan meminta masyarakat untuk lebih hati-hati saat melakukan aktivitas di luar rumah.
“Ketika berpergian, lalu ada hujan yang memang lebat, sebaiknya menepi, dan itu hindari di bawah poho, jangan sampai terkena bahaya,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan agar bencana tidak semakin parah.
“Diharapkan masyarakat juga tadi, tetap jaga lingkungan kita, supaya lingkungan juga menjaga kita, kita jaga alam, alam jaga kita,” tandasnya.
Comment