Kemudian, pencatatan lebih sistematis dan mudah dimonitor, memungkinkan pengobatan ARV lebih cepat bagi pasien reaktif. Serta meningkatkan capaian deteksi HIV di layanan primer.

Baca Juga: Anggota DPRD Reses di Jasinga Serap Aspirasi Masyarakat, Sampah dan Pelayanan Kesehatan Masih Jadi PR

Selain itu lanjut Dini Srie Agustin, sejak diimplementasikan awal 2025, TEH PETRA menunjukkan hasil awal yang menjanjikan. 

Prosentase pasien TB yang menjalani skrining HIV meningkat signifikan. Monitoring dilakukan setiap triwulan dan menjadi basis evaluasi layanan. 

Dengan target Puskesmas Jampang tahun ini adalah menjangkau minimal 80 persen pasien TB untuk menjalani skrining HIV, serta menekan angka penolakan pasien di bawah 10%. 

Katanya, model ini juga disiapkan untuk direplikasi ke Puskesmas lain di Kabupaten Bogor, sebagai contoh sukses integrasi layanan TB-HIV di tingkat primer.

Baca Juga: Cegah Peredaran Beras Oplosan Pemkab Bogor Awasi Langsung Toko Modern dan Supermarket, Ini Hasilnya

"Melalui TEH PETRA, kami memperlihatkan bahwa inovasi dalam pelayanan kesehatan tidak harus rumit. Cukup dengan komitmen, empati, dan pendekatan manusiawi, transformasi besar bisa dimulai dari akar layanan," pungkasnya.