Menurut Marse bahwa skema awal program ini mengandalkan bantuan stimulan dari pemerintah pusat dan daerah, berupa peralatan masak seperti kompor, panci, dan penggorengan, serta bahan makanan bergizi. Namun, ke depan, pihaknya berharap pengurus Kampung KB bisa menjalankan program ini secara swadaya.

"Harapannya program ini tidak hanya bergantung pada stimulan. Ke depan, para pengurus Kampung KB diharapkan mampu berinisiatif sendiri, menggandeng kelompok wanita tani (KWT), kelompok tani dewasa (KTD), dan potensi lainnya di sekitarnya,” jelasnya.

Pelaksanaan program DAHSAT diserahkan kepada masing-masing pengurus Kampung KB. Pemerintah memberikan bahan pangan setiap dua minggu sekali sebagai pendongkrak awal, namun kegiatan dapur sehat dapat dilakukan harian, mingguan, atau bulanan sesuai kemampuan dan kebutuhan wilayah masing-masing.

Baca Juga: Atasi Stunting di Mimika, TNI Turun Langsung Berikan Makanan Tambahan Bernutrisi

“Yang paling penting adalah edukasi. Kami hadirkan ahli gizi untuk melatih para pengurus agar bisa mengolah makanan yang sehat dan seimbang. Selain itu, ada juga pembinaan tentang pola asuh dan lingkungan. Setelah pelatihan, para kader akan menyampaikan edukasi ini langsung kepada masyarakat,” tuturnya. 

Sasaran utama dari program ini adalah keluarga berisiko stunting (KRS), bukan hanya anak-anak yang sudah mengalami stunting. KRS meliputi kelompok remaja putri, ibu hamil, dan ibu menyusui—yang berperan penting dalam mencegah terjadinya stunting sejak dini.