Dedie menyebutkan bahwa bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dipicu oleh kerusakan alam dan lingkungan.

“Kita tidak ingin Kota Bogor menjadi korban bencana apabila kita tidak memberi perhatian terhadap lingkungan. Kita juga tidak akan lepas dari kemungkinan bencana; ini tinggal menunggu waktu,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya mitigasi dan pencegahan.

“Untuk bencana, itu terjadi karena ulah manusia. Maka jangan buang sampah sembarangan, jangan merusak alam dan lingkungan, jangan bersikap seolah sampah bukan tanggung jawab kita. Jika kita menjaga alam, InsyaAllah alam juga akan menjaga kita,” tuturnya.

Baca Juga: Peringati HUT ke 54, Kopri Kota Bogor akan Serahkan SK  3.400 Pegawai PPPK

Dedie juga menanggapi penghargaan kategori disabilitas terinspiratif dari Kota Bogor, sekaligus menegaskan tidak adanya diskriminasi dalam penerimaan pegawai.

“Dalam penerimaan pegawai tidak ada diskriminasi. Siapa pun bisa diterima selama memenuhi syarat dan ketentuan. Kota Bogor juga merekrut PPPK disabilitas untuk paruh waktu, dan mereka sudah terbukti mampu. Pemberian SK ini melalui berbagai proses, dan InsyaAllah mereka bisa bekerja sama dengan ASN dan PNS untuk meningkatkan kinerja pemerintah,” bebernya.

Dedie juga mengatakan bahwa kebutuhan terbesar PPPK paruh waktu kali ini berasal dari tenaga teknis operator dan operasional. 

“Namun ada juga sekitar 200 guru. Ini menjadi langkah antisipasi terhadap potensi kelangkaan atau defisit guru di kemudian hari,” imbuhnya.