JAKARTA, CEKLISSATU.COM -- Di usia yang tak lagi muda, menginjak 130 tahun, Bank Rakyat Indonesia (BRI) rebranding atau memperbarui citra dan identitas visual.

Hal ini dilakukan untuk memperluas cakupan nasabah, tidak hanya identik pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) serta masyarakat pedesaan, namun juga hadir untuk masyarakat perkotaan hingga korporasi besar.

"Keputusan ini mengacu kepada hasil riset Nielsen, Kantar, dan Kadence, bahwa BRI dinilai perlu melakukan rebranding korporasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman," ujar Pimpinan Cabang BRI Jakarta Menara BRILiaN, Marco Arief Pramudita.

Baca Juga: KKMP Batutulis Tembus Ratusan Anggota, Lurah Idrus Sebut Bakal Kembangkan ke Bisnis Produktif

Hasil riset tersebut pertama adalah BRI terlalu bergantung pada citra kerakyatan sehingga muncul persepsi tua di kalangan segmen urban dan anak muda. 

Selain itu, layanan digital yang diberikan ke publik belum dianggap aspirasi dan menarik.

"Koneksi emosional dengan brand masih lemah, kemudian identitas brand belum selaras dengan ekspektasi gen Z, terjadi ketidakselarasan sistematik di berbagai sub brand, brand architecture tidak konsisten dan terstruktur, dan yang terakhir adalah less consider di segmen urban," kata Marco.

Baca Juga: FEB UNIDA Selenggarakan The 2nd Djuanda Global Economics Conference 2025, Bahas Ekonomi Plural Hingga Arah Keberlanjutan di Asia Tenggara

Marco menuturkan, perubahan citra ini diharapkan agar persepsi masyarakat terhadap BRI tidak hanya melayani masyarakat kecil dan kurang terlayani, namun BRI bisa menjadi bank untuk semua orang atau universal.

"Secara lebih luas itu kita ingin menjadi bank yang universal, lebih modern, lebih inklusif, lebih dekat dengan milenial. Kemudian kita memperluas jangkauan kita tidak hanya kuat di pedesaan, tapi juga kita kuat di urban. Tidak hanya kuat melayani rakyat jelata, tapi juga melayani rakyat jelita," ungkapnya.

Meski begitu, BRI tidak akan melepaskan fokus atau bisnis utama (core business) di sektor UMKM. Saat ini, porsi nasabah UMKM perusahaan mencapai sekitar 60 persen. Ke depan, porsi ini ditargetkan menurun, namun tetap mayoritas.

Baca Juga: Tim Audit Sistem Manajemen Pengamanan Korsabahara Polri, Cek Implementasi "SMP" Obvitnas di PT Antam Tbk UBPE Pongkor Bogor

"Mungkin kita nanti akan jaga di level antara 40-50 persen. Sementara yang lain segmen lain bertumbuh, kita akan keep di situ. Jadi tetap saja BRI itu adalah bank UMKM, semua program pemerintah ada di BRI mulai dari Makan Bergizi Gratis, 3 juta rumah, Koperasi Desa Merah Putih, termasuk penyaluran KUR," tegasnya.

Adapun pembaharuan dalam identitas BRI pertama dari sisi logo. Perusahaan mengubah visual palet warna, dari awalnya Biru BRI menjadi Biru Nusantara. 

Warna biru akan tetap menjadi inti identitas BRI, namun diperkaya dengan palet biru sekunder untuk merefleksikan nilai-nilai progresif dan customer centric, meliputi Biru Nusantara, Biru Mentari, dan Biru Cakrawala.

Baca Juga: Dari Ahli Cerutu, Yadie Dayana Merambah Bisnis Wewangian Bersama Kedua Putrinya  

Selain itu, perusahaan juga menyusun arsitektur brand yang lebih terstruktur dan terstandardisasi yang membuat seluruh brand lebih jelas dan mudah dinavigasi. 

"Perubahan ini mencakup desain poster dan banner serta kartu baik itu kartu debit basic dan gold, Tabungan Junio, prioritas, private, hingga Brizzi," tutupnya.