Ada setidaknya tiga kemungkinan yang menjelaskan mengapa dunia dilanda kekacauan dan kelaparan. Pertama, bisa jadi karena ketiadaan nilai-nilai kebenaran dalam ruang batin manusia. Kedua, nilai-nilai yang diadopsi—baik berupa ideologi, falsafah, maupun agama—tidak sejalan dengan fitrah manusia.
Dan ketiga, nilai-nilai itu membeku, kehilangan daya gerak, atau tertimbun oleh kepentingan pribadi dan kelompok, hingga tidak lagi memberi makna. Kelaparan di Gaza saat ini telah menyentuh batas ambang psikologis umat manusia. Dunia seperti kehilangan arah; masyarakat internasional bingung harus berbuat apa.
Lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan, seperti PBB, tampak tak berdaya. Dunia Islam pun tampak terpecah dan kehilangan suara. Dalil-dalil yang seharusnya menyatukan dan menggerakkan umat, justru berubah menjadi tali yang menjerat, menciptakan sekat-sekat kelompok, dan melemahkan ukhuwah.
Padahal, manusia dianugerahi hati nurani sebagai alat untuk merasakan, berempati, dan peduli terhadap sesama. Ketika empati dan kepedulian itu lenyap, maka hilang pula hati nurani. Dan hilangnya hati nurani berarti hilangnya kemanusiaan sejati.
Dunia pun berubah menjadi rimba, tempat makhluk yang disebut manusia saling memangsa, di mana yang kuat menindas yang lemah. Inilah potret bumi hari ini tempat yang terus memaksa kita untuk hidup dan (terpaksa) menikmatinya.
*)Penulis: Praktisi Pendidikan, Yayat Supriyatna