BOGOR, CEKLISSATU.COM -- Dunia yang kita huni saat ini, sebagaimana digambarkan oleh David WallaceWells dalam bukunya The Uninhabitable Earth, semakin tidak layak ditinggali. Salah satu ancaman terbesarnya adalah kelaparan. 

Wallace menyebutkan bahwa kelaparan muncul dari dampak krisis iklim, terutama suhu bumi yang terus meningkat dan menyebabkan kekeringan berkepanjangan.

Namun di sisi lain, ada faktor yang tak kalah serius: memanasnya suhu politik dunia yang dipicu oleh kekeringan hati nurani para pemimpin global. 

Maka, kelaparan sejatinya lahir dari dua jenis kekeringan—alamiah dan politis—yang keduanya merupakan hasil dari perilaku manusia sendiri.

Baca Juga: Kutuk Pembunuhan Direktur RS Indonesia di Gaza, Fahira Idris: Kebiadaban Israel Semakin Menjadi-jadi

Manusia adalah makhluk yang hidup dalam dua dimensi: lahiriah dan batiniah. Keduanya harus berjalan selaras dan seimbang agar kehidupan di bumi ini tetap harmonis. Ketidakseimbangan antara keduanya akan menciptakan ketimpangan yang berujung pada krisis, termasuk krisis kemanusiaan.

Dimensi batin manusia seharusnya menjadi kompas moral bagi tindakan tindakan lahiriah. Sebagaimana tubuh jasmani memerlukan nutrisi agar tetap sehat, jiwa manusia pun membutuhkan asupan nilai-nilai yang sesuai dengan fitrahnya. 

Lalu, pertanyaannya: nilai seperti apa yang mampu menyehatkan jiwa? Nilai-nilai yang bagaimana yang mampu mendorong manusia bertindak benar, menciptakan kedamaian, dan menjadikan bumi sebagai ruang hidup yang sejahtera?

Ada setidaknya tiga kemungkinan yang menjelaskan mengapa dunia dilanda kekacauan dan kelaparan. Pertama, bisa jadi karena ketiadaan nilai-nilai kebenaran dalam ruang batin manusia. Kedua, nilai-nilai yang diadopsi—baik berupa ideologi, falsafah, maupun agama—tidak sejalan dengan fitrah manusia. 

Baca Juga: BKSAP DPR RI Kecam Keras Tindakan Brutal Israel atas Serangan Udara yang Menewaskan Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza

Dan ketiga, nilai-nilai itu membeku, kehilangan daya gerak, atau tertimbun oleh kepentingan pribadi dan kelompok, hingga tidak lagi memberi makna. Kelaparan di Gaza saat ini telah menyentuh batas ambang psikologis umat manusia. Dunia seperti kehilangan arah; masyarakat internasional bingung harus berbuat apa. 

Lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan, seperti PBB, tampak tak berdaya. Dunia Islam pun tampak terpecah dan kehilangan suara. Dalil-dalil yang seharusnya menyatukan dan menggerakkan umat, justru berubah menjadi tali yang menjerat, menciptakan sekat-sekat kelompok, dan melemahkan ukhuwah.

Padahal, manusia dianugerahi hati nurani sebagai alat untuk merasakan, berempati, dan peduli terhadap sesama. Ketika empati dan kepedulian itu lenyap, maka hilang pula hati nurani. Dan hilangnya hati nurani berarti hilangnya kemanusiaan sejati. 

Dunia pun berubah menjadi rimba, tempat makhluk yang disebut manusia saling memangsa, di mana yang kuat menindas yang lemah. Inilah potret bumi hari ini tempat yang terus memaksa kita untuk hidup dan (terpaksa) menikmatinya.

*)Penulis: Praktisi Pendidikan, Yayat Supriyatna