BOGOR, CEKLISSATU.COM -- Banjir yang melanda Aceh dan Sumatra telah melampaui ambang batas ketahanan psikologis masyarakat. Perasaan kecewa, ragu, dan frustrasi tidak hanya dirasakan oleh para korban terdampak secara langsung, tetapi juga oleh masyarakat yang berada di luar wilayah bencana. 

Jumlah korban meninggal dan hilang terus berubah, sementara kerugian infrastruktur sangat besar dan diikuti oleh dampak kesehatan serta psikologis yang signifikan. 

Kejadian ini merupakan akibat dari serangkaian sebab yang perlu ditelusuri akar permasalahannya, untuk menemukan Solusi alternatif baik jangka Panjang maupun jangka pendek agar masyarakat tidak terjerumus dalam kekecewaan yang lebih mendalam—kekecewaan yang berpotensi berkembang menjadi kemarahan, resistensi, bahkan pemberontakan.

Baca Juga: Tuhan Menjadi Terdakwa di Pulau Sumatera

Apabila permasalahan besar dan kompleks ini tidak mampu menggugah kesadaran para pengambil kebijakan untuk melakukan perubahan dan perbaikan, dapat disimpulkan bahwa kepekaan mereka telah terseret oleh derasnya arus bencana. 

Akal dan pertimbangan mereka tergerus oleh kepentingan dan ketamakan, sedangkan hati nurani mereka tertutupi oleh praktik-praktik yang tidak etis. Rasa malu pun seakan lenyap tertiup angin kemunafikan. 

Dalam kondisi demikian, penderitaan masyarakat berpotensi dijadikan komoditas politik untuk membangun citra dan menarik simpati publik. 

Baca Juga: Gunung Putri Bogor Apel Siaga Bencana, Ratusan Personel Gabungan Disiagakan Hadapi Musim Hujan

Setiap kebijakan yang diambil tampak seperti “buah simalakama,” sebagai konsekuensi dari tata kelola yang keliru dan kehilangan arah, karena tidak lagi memiliki kompas moral sebagai pedoman.