BOGOR, CEKLISSATU.COM - Kondisi ruang terbuka hijau (RTH) di berbagai wilayah, terutama kota-kota besar di Indonesia, menunjukkan permasalahan serius ditandai dengan semakin berkurangnya luasan RTH akibat semakin meningkatnya pembangunan.
Di sisi lain, RTH memainkan peran krusial dalam konservasi keanekaragaman hayati dan kesehatan ekologi, yaitu sebagai tempat perlindungan esensial bagi satwa di area urban yang terfragmentasi.
Sehingga memungkinkan satwa liar bertahan hidup dalam berbagai tekanan lingkungan urban dengan menyediakan sumber daya vital seperti makanan, tempat berlindung, dan area perkembangbiakan.
Dalam ekosistem perkotaan yang terfragmentasi, RTH juga berfungsi sebagai penyangga ekologi yang penting untuk mendukung konektivitas habitat.
Misalnya, taman kota, jalur hijau, maupun area riparian perkotaan dapat berperan sebagai koridor yang mengkoneksikan habitat-habitat yang terpisah sehingga memfasilitasi pertukaran genetik dan migrasi satwa liar.
Sebagai area perlindungan, ketahanan populasi satwa liar sangat bergantung pada konektivitas ini, yang memungkinkan satwa liar dapat beradaptasi dengan berbagai tekanan lingkungan sehingga mengurangi konsekuensi negatif kehilangan habitat akibat urbanisasi.
Selain itu, RTH memberikan banyak manfaat sosio-ekologis bagi masyarakat, antara lain sebagai sarana interaksi sosial serta rekreasi yang berpotensi meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Pemanfaatan RTH merupakan representasi hubungan harmonis-ekologis antara manusia dengan alam, yang mendukung munculnya kesadaran lingkungan dan etika konservasi di masyarakat.
Keberadaan satwa liar pada RTH dapat dimanfaatkan sebagai objek ekowisata dalam bentuk berbagai aktivitas pengamatan satwa, hal ini membantu menanamkan pemahaman tentang tentang keanekaragaman hayati dan mendorong perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Upaya peningkatan kesadaran lingkungan ini mendukung inisiatif konservasi dan membantu mengurangi konflik yang timbul akibat interaksi dengan satwa liar karena masyarakat memahami peran ekologis satwa liar.
Baca Juga: Warga Jakarta Butuh Ruang Terbuka Hijau, Kawasan Monas Bakal Dibuka Hingga Pukul 10 Malam
Berbagai peran ekologis tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan RTH merupakan aspek penting bagi pengembangan komunitas dan perencanaan kota.
Aksesibilitas dan keterlibatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam desain pengelolaan untuk memastikan bahwa RTH dapat memberikan manfaat ekologi dan pendidikan lingkungan yang tepat sasaran.
Partisipasi masyarakat dapat meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan, mendorong koeksistensi berkelanjutan dengan satwa liar, dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Tambah Ruang Terbuka Hijau, Pemkot Resmikan Revitalisasi Bukit Mbah Garut
Berbagai peran krusial tersebut memperkuat bukti bahwa RTH merupakan elemen esensial di lingkungan perkotaan karena mempengaruhi inisiatif konservasi, memberikan manfaat sosial-ekonomi, meningkatkan ketahanan ekosistem, dan menyediakan habitat vital untuk satwa liar.
Oleh karena itu dalam pengelolaannya, RTH dapat dibuat lebih fungsional dan berkelanjutan secara ekologi melalui perencanaan inklusif dalam mengelola RTH secara berkelanjutan yang mewakili preferensi dan kebutuhan komunitas masyarakat perkotaan.
Penulis: Siva Devi Azahra
Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University
Comment