“Masih ada, kalau kita bahasanya mipit, itu sebelum ambil padi ada ritual khusus bagi yang bisa,” ucapnya.
Namun, di tengah semangat pelestarian budaya, masyarakat menghadapi tantangan dalam hal pengairan.
Selain itu lanjutnya, pertanian di desa ini masih bergantung sepenuhnya pada tadah hujan karena tidak adanya saluran irigasi yang memadai.
“Tidak memiliki irigasi, melainkan tadah hujan. Jangkauan terlalu jauh dari mata air, sungai Cibeureum,” jelasnya.
Menurut catatan sejarah dalam Kamus Sunda-Inggris karya Jonathan Rigg tahun 1862, wilayah Jasinga sejak lama dikenal memiliki beragam varietas padi lokal, termasuk Chere Bogor, Angsana, Gadog, Taropong, hingga Gimbal.