Menurut Pratikno, Indonesia membutuhkan manusia unggul secara utuh. Karena itu, para siswa tetap diminta mempelajari berbagai bidang meskipun memiliki keunggulan tertentu.

“Karena kita harus menjadi manusia unggul yang utuh, semuanya,” tegasnya.

Ia juga meminta siswa SNT angkatan pertama menjadi pelopor sekaligus teladan bagi generasi berikutnya.

“Kalian ini adalah angkatan pertama, angkatan pionir. Sebagai anak pertama akan menjadi teladan bagi adik-adik yang berikutnya. Jadi, tunjukkan prestasimu,” pesan Pratikno.

Selain memperluas akses pendidikan berkualitas, pemerintah juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman bagi anak.

Pratikno menyebut pemerintah telah meluncurkan program “Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak” sebelum pembukaan MPLS SNT.

Ia menegaskan, kekerasan tidak boleh terjadi di lingkungan pendidikan, termasuk kekerasan antarsiswa.

“Kekerasan itu membawa trauma panjang. Oleh karena itu, kita harus bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang aman dan nyaman untuk anak,” katanya.

Pratikno berharap kehadiran SNT menjadi tonggak baru pemerataan pendidikan di Indonesia. Ia ingin tempat seorang anak lahir, tumbuh, maupun kondisi ekonomi keluarganya tidak lagi menjadi penentu kualitas pendidikan yang diterima.

“Tempat anak lahir dan tumbuh, keluarga asal anak, jangan menentukan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan yang baik harus ada di mana-mana.”

Pembukaan MPLS SNT angkatan pertama pun resmi dilakukan secara nasional. Para siswa yang menjadi angkatan pionir diharapkan mampu membuktikan bahwa pemerataan pendidikan berkualitas bukan sekadar program pemerintah, tetapi dapat melahirkan generasi unggul yang membawa kemajuan bagi Indonesia.