BOGOR, CEKLISSATU.COM - Inovasi dosen IPB University berhasil masuk dalam daftar 117 Inovasi Indonesia 2025 berkat pengembangan pupuk hayati ramah lingkungan berbasis mikroorganisme lokal untuk merehabilitasi lahan bekas tambang kapur.
Riset dosen IPB University itu menghadirkan solusi berkelanjutan dalam pengelolaan limbah tambang sekaligus meningkatkan kesuburan bekas lahan tambang.
Inovasi berjudul Kolaborasi Jasad Renik Hijaukan Lahan Tambang Kapur, yang dikembangkan oleh Dr Nisa Rachmania bersama tim, berfokus pada pemanfaatan mikroorganisme lokal untuk mendukung proses pengomposan dan revegetasi lahan bekas tambang batuan kapur.
Baca Juga: Budidaya Sorgum di Bogor Jadi Inspirasi UBP dalam Program Reklamasi Pascatambang
Produk formulasi ini terdiri atas isolat bakteri Bacillus paramycoides A.1.4 dan kapang Penicillium singorense 1.1.a yang berasal dari tanah area revegetasi bekas tambang batuan kapur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Citeureup.
"Area revegetasi di lingkungan quarry bekas tambang batuan kapur Citeureup menyimpan potensi karbon organik dari limbah tumbuhan mati yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Dari tanah dan sisa tumbuhan tersebut, kami mengisolasi bakteri dan cendawan penghasil enzim pengurai," terang Dr Nisa dikutip dalam keterangannya, Minggu (1/3/2026).
Kedua mikroorganisme potensial penghasil enzim pengurai selulosa dan lignin tersebut kemudian dikumpulkan menjadi konsorsium sebagai formula bioaktivator pembuatan kompos dari sisa tanaman di area revegetasi tersebut.
Menurut Dr Nisa, pengujian menunjukkan hasil pengomposan dan pemberian pupuk hayati dari formulasi kedua mikroorganisme tersebut lebih baik dibandingkan produk komersial.
Hal ini menunjukkan kedua isolat telah adaptif pada lingkungan bekas tambang batuan kapur. Kedua spesies ini belum pernah dilaporkan sebagai komponen pupuk hayati seperti yang telah diperjualbelikan secara komersial,” jelasnya.
Ia menambahkan, kedua isolat tidak bersifat patogen bagi manusia dan hewan. Berdasarkan kajian literatur, Penicillium singorense juga bukan patogen tanaman.
Dalam uji tambahan, formula bioaktivator terbukti mampu menurunkan 86 persen bobot limbah tanaman, jauh lebih tinggi dibandingkan produk komersial lain yang hanya 15 persen.
Pada uji lapangan terbatas seluas sekitar 50 meter persegi, pertambahan tinggi tanaman kaliandra mencapai 9,8 persen pada perlakuan formula, dibandingkan 9,1 persen pada produk komersial.
“Dari hasil penelitian ini, kedua isolat berpotensi digunakan sebagai pupuk hayati dan starter untuk proses pengomposan di area tambang batuan kapur atau lahan dengan komposisi tanah serupa,” ujarnya.
Baca Juga: Soal Pembebasan Lahan Jalur Tambang, Bupati Bogor Rudy Susmanto: Sudah Masuk Dalam APBD 2026
Dr Nisa menekankan, inovasi ini masih perlu diuji pada skala penanaman yang lebih luas. Ia juga mendorong agar isolat mikroorganisme potensial disimpan di culture collection, seperti IPB Culture Collection, agar keberadaannya terjaga dan dapat digunakan sebagai isolat standar pupuk hayati asli Indonesia.
“Untuk proses hilirisasi perlu dukungan institusi dan pemerintah, sehingga manfaat pupuk hayati dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetik dan meningkatkan kualitas pupuk organik. Bagi petani dan praktisi pertanian, pupuk hayati dapat meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman setelah diaplikasikan berulang kali,” tutupnya.
Comment