Pada sesi pertama, Prof. Dr. Novel Anak Lyndon membahas perbedaan mendasar sistem pemilu di Malaysia dan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Malaysia menerapkan sistem First Past the Post (FPTP), sementara Indonesia menggunakan sistem Perwakilan Proporsional dengan pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat.

“Di Malaysia, Perdana Menteri dipilih melalui anggota parlemen, sedangkan di Indonesia pemimpin dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilu,” jelasnya.

Ia juga mengulas bagaimana faktor geografis dan demografis memengaruhi pola pemungutan suara di Malaysia, termasuk perbedaan karakteristik pemilih di wilayah perkotaan dan pedesaan. Menurutnya, meski kedua negara memiliki sistem yang berbeda, tujuan utama demokrasi tetap sama, yakni menjaga stabilitas politik dan pemerintahan.

Baca Juga: Ruang Temu Kolaboratif: BEM FISIP UNIDA Terima Kunjungan Belajar BEM FIS UMMI

Selain itu, Prof. Dr. Novel turut memaparkan hasil Pemilihan Umum ke-15 (PRU-15) Malaysia tahun 2022 yang mencatat sejarah sebagai salah satu pemilu paling kompetitif di negara tersebut karena menghasilkan kondisi hung parliament atau tidak adanya mayoritas mutlak di parlemen.

Sementara itu, pada sesi kedua, Dr. Junaidi Awang Besar menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam memperkuat demokrasi dan pembangunan komunitas. Ia menilai keterlibatan warga menjadi elemen penting dalam membangun tata kelola yang transparan dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan literasi digital kini menjadi bagian penting dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam menciptakan smart communities atau komunitas cerdas.