BOGOR, CEKLISSATU.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti kerusakan tata ruang di Bogor yang dinilai menjadi penyebab meningkatnya banjir dan longsor dalam beberapa tahun terakhir.

Dedi Mulyadi menyebut, kerusakan tata ruang di Bogor tidak hanya memicu banjir dan longsor di daerah setempat, tetapi juga berdampak hingga wilayah hilir seperti Jakarta.

Menurut Dedi Mulyadi, perubahan fungsi lahan secara masif di kawasan resapan air dan perbukitan menjadi faktor utama meningkatnya frekuensi bencana di Bogor dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Warga Babakan Madang Bogor Tud­ing Tata Ruang Kritis Penyebab Banjir, Kawasan Sentul City Ikut Disinggung

“Saya sangat memahami berbagai problem kerusakan alam di Kabupaten Bogor. Banyak banjir dan longsor itu disebabkan perubahan tata ruang,” ujarnya, dikutip dari Instagram resmi Dedi Mulyadi @dedimulyadi71,  Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, lahan hijau yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air dan penahan longsor kini banyak dialihfungsikan, termasuk menjadi kawasan permukiman.

Perubahan alih fungsi lahan tersebut terjadi dalam skala luas sejak kebijakan tata ruang sebelumnya.

Dampaknya, kata dia, tidak hanya dirasakan di Bogor, tetapi merambat ke wilayah lain di hilir.

Baca Juga: Wabup Bogor Jaro Ade: Penanganan Alih Fungsi Lahan di Kabupaten Bogor Diperlukan Kebijakan Nasional

“Bogor itu bukan hanya untuk masyarakat Bogor. Bogor menjaga Bekasi, Karawang, hingga Jakarta,” tegasnya.

Dedi secara khusus menyoroti kawasan Sukamakmur yang dinilai mengalami perubahan signifikan. Perbukitan di wilayah tersebut banyak berubah menjadi perumahan, sehingga memperbesar risiko longsor dan meluapnya aliran sungai yang berdampak hingga ke daerah bawah.

Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah berupaya mengembalikan fungsi tata ruang di Bogor agar keseimbangan lingkungan dapat dipulihkan.

Baca Juga: Cegah Alih Fungsi Lahan, Bupati Bogor Rudy Susmanto Cabut Pendelegasian Kewenangan Terkait Perizinan

“Kami berusaha mengembalikan tata ruang Bogor agar gunung, aliran sungai, dan danau tetap terjaga, sehingga bencana tidak datang setiap waktu,” katanya.

Ia menegaskan, pemulihan tata ruang menjadi kunci untuk melindungi kawasan aglomerasi yang lebih luas, termasuk Jakarta, dari ancaman banjir berulang.

Oleh karena itu, Dedi mengajak seluruh pihak untuk menghentikan eksploitasi ruang yang mengabaikan aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan.

Baca Juga: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Bentuk Tim Evaluasi Perizinan, Pastikan Alih Fungsi Lahan Sesuai Aturan

“Kalau ingin Bogor, Bekasi, Karawang sampai Jakarta terbebas dari bencana, mari kita jaga Bogor agar tidak hanya menjadi pusat eksploitasi, tetapi tetap mempertahankan keasrian alamnya,” pungkasnya.