Kajian ilmiah IPB University sebelumnya menyimpulkan bahwa banjir bandang Garoga dipicu oleh faktor alam ekstrem. Tim ahli yang dipimpin Prof. Dr. Yanto Santosa menyoroti dampak Siklon Tropis Senyar yang memicu curah hujan lebih dari 500 mm dalam tiga hari, jauh melampaui batas normal. Kondisi geologi berupa tanah tipis di atas batuan kedap air membuat lereng mudah jenuh dan longsor, bahkan di kawasan berhutan alami.
Secara spasial, IPB mencatat luas areal PT TBS di sub-DAS Garoga hanya sekitar 20–30 hektare atau kurang dari 0,5 persen dari total luas DAS Aek Garoga yang mencapai 12.767 hektare. Dua anak sungai yang berhulu di area perusahaan pun dinilai tidak memiliki kapasitas untuk membawa material kayu dalam jumlah besar.
Rangkaian klarifikasi dari kepala desa, masyarakat, dan hasil kajian ilmiah ini menegaskan pentingnya penanganan bencana berbasis data dan sains. Polemik banjir bandang Garoga kini bergeser dari tudingan sepihak menuju pemahaman bahwa bencana tersebut merupakan persoalan kompleks yang melibatkan faktor alam, geologi, dan tata kelola wilayah secara menyeluruh.
Tak hanya isu lingkungan, kasus ini kini juga menyentuh dimensi keadilan kebijakan serta kehati-hatian negara dalam menetapkan pihak yang harus bertanggung jawab atas sebuah bencana alam.
Comment