Kini, lebih dari 80 anak telah berhasil mereka tarik dari tepian jurang putus sekolah. Sepuluh diantaranya bahkan berhasil menamatkan SMA. Dunia luar mungkin mengapresiasi mereka lewat deretan piala seperti Best Project di Inspiring Asia Micro Film Festival 2025, penghargaan Bakrie Center Foundation, hingga komunitas terfavorit di IPB.
Namun, bagi Rumah Visioner, kemenangan paling sejati tidak pernah terbuat dari kuningan piala atau kertas sertifikat.
Kemenangan terbesar mereka adalah saat menatap mata anak-anak itu. Mata yang dulu kosong dan menunduk saat ditanya soal masa depan, kini berani menatap balik dengan binar harapan.
"Aku ingin jadi dokter."
"Aku mau jadi guru."
"Aku ingin ibu bahagia."
Mimpi-mimpi sederhana yang dulu tak berani mereka sentuh, kini hidup kembali. Dan mungkin, di tengah dunia yang terus berputar dan sibuk dengan egonya sendiri, Rumah Visioner tetap menolak untuk tutup usia dan tetap memastikan tak ada satupun mimpi anak-anak yang harus mati hanya karena ekonomi keluarga.
Siti Balqis Sari Manah
Comment