BOGOR, CEKLISSATU - Di pelataran Kampus IPB Dramaga, masa depan seolah begitu dekat dan dapat disentuh. Gedung-gedung kampus berdiri angkuh, menaungi ribuan mahasiswa yang sibuk merajut cita-cita. Namun, tepat di balik megahnya bayang-bayang itu, kenyataan yang timpang  bernapas pelan. Hanya berjarak beberapa meter dari pusat ilmu pengetahuan, ada anak-anak yang tumbuh tanpa kepastian dan selalu dihantui oleh pertanyaan ‘apakah esok pagi mereka masih punya alasan untuk memakai seragam sekolah?’

Tangan-tangan kecil yang seharusnya memegang pensil itu, justru menengadah di lampu merah. Kaki yang seharusnya berlarian di halaman sekolah, justru harus menyusuri aspal panas untuk memulung botol bekas. Mereka dipaksa dewasa oleh keadaan, memikul lelah sejak pagi buta demi menyambung napas keluarga.

Pemandangan itulah yang bertahun-tahun menggores batin Mohamad Arif Pramarta dan kawan-kawannya. Awalnya, yang muncul hanyalah rasa pedih di dada. Namun, rasa tak tega yang didiamkan perlahan berubah menjadi sebuah pemberontakan kecil. Dari sanalah, Rumah Visioner perlahan mengambil wujud.

Baca Juga: UU PPRT Jadi Tonggak Baru, BPJS Ketenagakerjaan Percepat Perlindungan Pekerja Rumah Tangga

"Bukan karena mereka malas sekolah," ucap Arif pelan, suaranya menyimpan kepahitan.
"Banyak dari mereka yang sebenarnya haus akan ilmu, tapi kerasnya hidup memaksa mereka menyerah lebih dulu," tambahnya.

Ini bukan kiasan. Di sebuah ruang kontrakan sempit yang disulap menjadi tempat belajar, para relawan ini menyaksikan sendiri wajah-wajah kemiskinan yang sebenarnya.

Ada anak yang datang belajar lalu diam-diam terus meneguk air putih, sekadar untuk menipu perutnya yang perih karena rasa lapar. Ada yang tak kuasa menahan kantuk lalu tertidur di atas buku, kehabisan tenaga setelah semalaman bekerja membantu orang tuanya.

Luka yang paling dalam bukanlah soal perut yang kosong, melainkan harapan yang terampas. Terlalu lama hidup dalam kekurangan membuat anak-anak itu perlahan percaya; bahwa cita-cita dan masa depan yang cerah hanyalah dongeng pengantar tidur bagi anak-anak lain yang bernasib lebih baik.

Kenyataan menyayat hati itulah yang menahan Rumah Visioner agar tidak roboh.

Dari tikar lusuh di rumah petak, gerakan ini membesar. Tangan-tangan relawan seperti Novita Eka Widyastuti, Puput Septiyaningsih, Muhammad Reza Multazam, dan Arif terus merengkuh anak-anak itu di bawah naungan Yayasan Lentera Visioner Indonesia. Mereka tak sekadar mengajar membaca, tapi memberi beasiswa, kejar paket, dan menjadi 'kakak' bagi jiwa-jiwa kecil yang nyaris patah.

Tentu saja, mempertahankan nyala lentera ini rasanya seperti berjalan melawan badai. Relawan datang silih berganti. Lelah seringkali menyergap diam-diam di antara tuntutan kuliah, pekerjaan, dan urusan sosial. Belum lagi napas pendanaan yang sering tersengal, sementara kebutuhan anak-anak yang terus bertumbuh .

Baca Juga: Satu Desa Satu Sarjana: Langkah Visioner Bupati Bogor Perkuat Akses Pendidikan Tinggi untuk Kemajuan SDM Desa

"Tantangan terbesar itu bukan sekadar soal uang, tetapi yang paling sulit adalah menjaga api semangat kawan-kawan di dalamnya agar tak ikut redup" kata Arif. 

Di Rumah Visioner, angka bukan sekadar nominal; ia adalah penyambung napas pendidikan. Saat ini, dibutuhkan sekitar Rp326 ribu per bulan untuk memastikan satu anak tetap bersekolah, mulai dari SPP, seragam, hingga pendampingan belajar. Untuk lima anak asuh aktif saja, mereka butuh menopang biaya hingga Rp19 juta dalam setahun.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya setara dengan tagihan nongkrong di kedai kopi per-bulan. Namun disini, rupiah demi rupiah itu menjelma sebagai seragam, buku-buku, ongkos, penentu apakah seorang anak bisa kembali menatap papan tulis dan kalimat penenang yang dapat menghapus rasa cemas seorang anak.

Kini, lebih dari 80 anak telah berhasil mereka tarik dari tepian jurang putus sekolah. Sepuluh diantaranya bahkan berhasil menamatkan SMA. Dunia luar mungkin mengapresiasi mereka lewat deretan piala seperti Best Project di Inspiring Asia Micro Film Festival 2025, penghargaan Bakrie Center Foundation, hingga komunitas terfavorit di IPB.

Namun, bagi Rumah Visioner, kemenangan paling sejati tidak pernah terbuat dari kuningan piala atau kertas sertifikat.
Kemenangan terbesar mereka adalah saat menatap mata anak-anak itu. Mata yang dulu kosong dan menunduk saat ditanya soal masa depan, kini berani menatap balik dengan binar harapan.

"Aku ingin jadi dokter."
"Aku mau jadi guru."
"Aku ingin ibu bahagia."

Mimpi-mimpi sederhana yang dulu tak berani mereka sentuh, kini hidup kembali. Dan mungkin, di tengah dunia yang terus berputar dan sibuk dengan egonya sendiri, Rumah Visioner tetap menolak untuk tutup usia dan tetap memastikan tak ada satupun mimpi anak-anak yang harus mati hanya karena ekonomi keluarga.

Siti Balqis Sari Manah